Surat Cinta dari Kebun Cengkeh

Cerpen Nomor 0047

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas
Relawan
Infonesia
Sehat

Akhir Januari 2026

Surat Cinta dari Kebun Cengkeh

Pagi di Ngada selalu datang pelan, seperti ragu mengganggu orang-orang yang hidupnya sudah terlalu bising oleh kekurangan.
Kabut turun rendah di kebun cengkeh, menyisakan embun di daun-daun dan dingin yang menempel di tulang.

Di pondok kecil milik neneknya, Yona duduk di bale-bale bambu, menekuk lutut, menatap tanah.

Usianya sepuluh tahun. Ia tahu cara menghitung, tahu membaca, tahu menyimpan rahasia.

Ia juga tahu satu hal yang tak seharusnya diketahui anak seusianya: bagaimana rasanya menjadi beban.
Ibunya, Mama Reti, telah berangkat lebih pagi.
Bukan untuk bekerja
hari itu tak ada yang bisa dikerjakan
melainkan untuk memastikan

Yona sampai di pondok neneknya.
Seragam sekolah Yona tersimpan di sana.

“Rajin sekolah ya,” kata ibunya sebelum pergi.
Kalimat itu ringan bagi orang dewasa, berat bagi Yona.
Kepalanya pusing sejak malam.

Bukan pusing yang membuat orang dewasa berbaring dan minum obat, melainkan pusing yang bercampur dengan rasa bersalah.

Yona tahu ia sudah beberapa kali tak masuk sekolah.

Ia juga tahu, uang tidak datang begitu saja.

Kata-kata ibunya semalam berputar-putar di kepala: mencari uang tidak mudah.
Ketika dua orang dewasa lewat menuju kebun, mereka melihat Yona masih di bale-bale.

“Kamu tidak ke sekolah?” tanya salah satu.

Yona menggeleng.
“Nenek di mana?”
“Di rumah tetangga,”

jawabnya pelan.
Mereka pergi, dan Yona kembali sendiri.
Ia membuka tas kainnya.
Di dalamnya hanya ada buku tulis lama dan sepotong pensil yang pendek.
Yona merobek selembar kertas.

Tangannya gemetar.
Ia menulis dalam bahasa ibunya
bahasa yang paling jujur untuk mengucapkan perpisahan.
Ia menulis untuk Mama Reti.
Tulisan itu tidak rapi.

Ada kata yang terlewat, ada garis yang bergetar.
Namun setiap huruf mengandung satu hal yang jelas:
ia ingin ibunya berhenti menangis.

Ia ingin ibunya tahu, kepergiannya bukan karena benci,
melainkan karena cinta yang terlalu besar
dan hati anak laki-laki yang terlalu kecil untuk menampungnya.

Yona melipat kertas itu dengan hati-hati, seperti melipat doa.

Di kebun cengkeh, angin bergerak perlahan.
Dahan-dahan berdesir, seolah saling berbisik.
Dunia berjalan seperti biasa

orang mengikat ternak, orang menuju ladang—
hingga jerit itu pecah,
memantul di lereng,
dan berhenti di dada setiap orang yang mendengarnya.
Ketika Mama Reti tiba, kebun itu telah dikerumuni.
Ia melihat pohon cengkeh, melihat orang-orang,
lalu melihat sesuatu yang membuat kakinya lemas.

Tidak ada kata yang keluar.
Tidak ada suara yang sanggup memuat
hancurnya seorang ibu.
Di pondok, kertas itu ditemukan.
Tulisan tangan kecil itu menjadi saksi paling sunyi.
Ia tidak menuduh siapa pun.
Ia tidak menyebut sekolah, tidak menyebut uang.
Ia hanya meminta satu hal jangan menangis.
Hari itu, desa berduka.
Orang-orang berbisik
anak yang ceria, anak yang ramah.
Mereka lupa satu hal
anak yang ceria sering belajar tersenyum untuk menutup luka.

Yona bukan satu-satunya.
Ia hanya satu dari banyak anak
yang belajar terlalu cepat tentang kerasnya dunia.
Tentang tuntutan yang tak ramah
pada mereka yang tak punya.
Tentang kata-kata yang terdengar biasa,
tetapi menekan dada kecil
hingga tak ada ruang bernapas.

Malam turun.
Mama Reti duduk di rumahnya yang sunyi.
Ia memegang kertas itu lama sekali.

“Maafkan mama,” bisiknya.
Ia tidak tahu kepada siapa kata itu diarahkan
kepada Yona, kepada dirinya sendiri,
atau kepada dunia yang terlalu sering abai.

Keesokan hari, sekolah kembali buka.
Anak-anak datang dengan tas mereka.
Di satu bangku, ada ruang kosong.

Tidak ada yang berani duduk di sana.
Di kebun cengkeh, daun-daun tetap tumbuh.
Hidup terus berjalan.
Namun sejak hari itu,
angin di Ngada membawa satu pesan
yang tak boleh dilupakan:
anak-anak tidak pernah ingin pergi

mereka hanya ingin dimengerti.
Dan jika suatu hari kita mendengar suara kecil bertanya dengan ragu,
“Aku cukup, kan?”

Semoga ada tangan yang segera meraih dan menjawab,
“Kamu berharga.”

Selamat jalan, Yona.

http://www.kris.or.id
http://www.adharta.com

Leave a comment