Ketika Tuhan Mengajari MasKris Cara Berdiri Kembali

Ketika Tuhan Mengajari MasKris Cara Berdiri Kembali

Cerpen nomor 0044

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
28 Januari 2026

Saat matahari mulai terbit
Saya menerima beberapa kiriman Berita singkat
Sebagian besar tentang kisah kisah pribadi yanenyentuh hati

Saya suka sekali mendengar kisah kisah tentang suka duka anak anak manusia
Kemudian mau berjuang membantu sesama
Mari bersama KRIS kata sahabatku

Cinta diawal cinta
MasKris tidak pernah menyangka bahwa hidup bisa berubah secepat itu.

Pagi itu hujan turun rintik-rintik, seolah ikut menahan napas.

MasKris duduk lama di ruang tamu rumah kontrakan kecilnya.

Di tangannya, selembar kertas putih dengan cap perusahaan
surat yang mengakhiri delapan belas tahun pengabdiannya.

Tidak ada teriakan.
Tidak ada amarah.
Hanya dada yang terasa kosong, seperti kehilangan sesuatu yang tak bisa digantikan.

Dulu, MasKris adalah orang yang sering berkata,
“Alhamdulillah, hidup saya sudah cukup.”
Gajinya memang tidak besar, tapi cukup.
Istrinya tersenyum. Anak-anaknya sekolah. Ia merasa aman. Terlalu aman, bahkan.

Hingga tanpa disadari, ia mulai lupa menunduk.
Lupa bahwa hidup bisa berubah kapan saja.
Hari demi hari berlalu setelah pemutusan kerja itu.

MasKris mulai menghitung receh.
Ia menjual barang-barang yang dulu dianggap biasa. Telepon genggam. Sepatu kerja. Jam tangan hadiah ulang tahun pernikahan.
Baju baju bekas
Celana panjang
Sepatu Adidas
Ke tukang loak
Untuk bertahan hidup

Setiap barang yang pergi seakan membawa potongan harga dirinya.

Suatu malam, istrinya berkata lirih, hampir berbisik,
“Mas… beras tinggal segenggam.”

MasKris mengangguk.
Ia masuk kamar mandi, mengunci pintu, dan untuk pertama kalinya menangis tanpa suara.

Air matanya jatuh bercampur air keran.
Ia menatap wajahnya di cermin
wajah seorang laki-laki yang merasa gagal.

Malam itu MasKris keluar rumah.
Ia berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti langkah kaki yang berat.

Hingga akhirnya ia berhenti di sebuah mushala kecil di sudut gang.
Lampunya redup.
Sepi.
Hanya ada seorang lelaki tua yang sedang duduk bersila, berzikir perlahan.

MasKris duduk di pojok. Dadanya sesak. Ia merasa rendah.
Merasa kalah oleh hidup.

Di dinding mushala itu, ada tulisan sederhana yang dicetak di kertas kuning pucat

Allah mempergilirkan kondisi manusia sesuai kehendak-Nya.

Ketika di atas, janganlah sombong karena tidak selamanya kita akan di sana.
Ketika di bawah, jangan terlampau bersedih karena tidak selamanya kita akan di bawah terus.

Jadikan syukur dan sabar dua sikap yang terus kita pegang.

MasKris membacanya berulang kali.

Entah kenapa, kalimat itu seperti berbicara langsung kepadanya. Bukan menghakimi.

Bukan menyalahkan. Tapi memeluk.
Untuk pertama kalinya sejak lama,
MasKris tidak bertanya, “Kenapa aku?”

Ia hanya berbisik pelan,
“Ya Allah… aku ingin belajar bersabar.”

Hidup MasKris tidak langsung berubah.
Pagi tetap datang dengan kecemasan. Malam tetap dipenuhi doa yang panjang.
Ia bekerja serabutan
mengangkat barang di pasar, membersihkan halaman orang, mengantar tetangga yang sakit.

Upahnya kecil. Tapi setiap kali pulang, ada rasa yang berbeda ia masih berguna.

Suatu sore, MasKris melihat seorang ibu tua terjatuh di depan warung.
Tanpa pikir panjang, ia membantu, mengantar ke rumah, membelikan obat dengan uang terakhir di sakunya.

Malam itu, ia pulang tanpa uang. Tapi hatinya hangat.
Di situlah MasKris mulai menyadari satu hal yang dulu tak pernah ia pahami

Saat kita berada di bawah, Allah justru mengajarkan kita melihat hidup lebih jernih.

Ia mulai bersyukur atas hal-hal kecil. Nasi hangat meski sederhana.

Tawa anak-anak meski tanpa mainan baru. Tidur nyenyak meski tanpa pendingin ruangan.

Ia belajar sabar
bukan karena terpaksa, tetapi karena percaya bahwa hidup ini sedang digilir.

Suatu hari, MasKris melihat sekelompok orang berbagi makanan gratis dan layanan kesehatan di lapangan kecil dekat rumahnya.
Ada spanduk bertulisan KRIS
Komunitas Relawan Indonesia Sehat
Ibu ibu dan bapak bapaknya sungguh berwajah ceria
Penuh suka cita

Mereka datang spanduk dengan spanduk kecil tapi bisa dibaca jelas
Tanpa sorotan kamera.
Mereka bekerja dalam diam, dengan senyum yang tulus.

MasKris bertanya,
“Ini kegiatan apa?”
Seorang di antara mereka menjawab,
“Kami dari KRIS. Komunitas Relawan Indonesia Sehat.

Kami ingin hidup yang lebih bermakna.”

Kata bermakna menggema di kepala MasKris sepanjang malam.

Ia mulai ikut membantu. Mengatur antrean. Mengangkat galon. Menemani lansia.
Tidak dibayar. Tidak dipuji. Tapi setiap pulang, MasKris merasa dadanya ringan.

Ia merasa hidupnya kembali bernapas.
Beberapa bulan berlalu.
Hidup MasKris belum mapan. Ia belum kembali “di atas”.
Tapi ia tidak lagi merasa kecil.
Ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar pekerjaan: tujuan.

Pada suatu sore, MasKris berdiri di tengah kegiatan KRIS. Ia melihat wajah-wajah lelah yang bahagia.

Orang-orang yang dulu tak ia kenal, kini terasa seperti keluarga.
Dengan suara bergetar tapi mantap, ia berkata,
“Aku ingin bergabung.

Aku ingin hidupku tidak hanya untuk diriku sendiri.”
Hari itu, MasKris resmi menjadi bagian dari KRIS.
Ia mengerti kini
Allah mempergilirkan hidup bukan untuk menghancurkan,
melainkan untuk mendidik hati.

Agar saat di atas, kita tidak lupa bersyukur.
Agar saat di bawah, kita tidak kehilangan harapan.

Agar kita tahu bahwa sukacita sejati lahir ketika kita mau menolong sesama.
MasKris tersenyum.

Ia belum sampai.
Tapi ia sudah berjalan di jalan yang benar.

Dan itu cukup
untuk hari ini, dan untuk hidup yang lebih baik.

MasKris sekarang menjadi sopir GO-JEK dan beberapa bulan kemudian dia sudah memiliki dan mengoperasikan 4 motor
Sedangkan MasKris sendiri menjadi Sopir tembakan atau panggilan
Atau asisten pribadi
Istrinya menjadi ART di sebuah rumah besar
Walau tidak berpenghasilan besar tapi sudah lebih dari cukup

MasKris menjadi iKON di para tetangga karena ringan tangan membantu sesama
Menjadi Relawan Tangguh tanpa pamrih

Www.adharta.com

Www.kris.or.id

Leave a comment