Ekonomi Indonesia Saat Ini Pemikiran dan pandangan

Ekonomi Indonesia Saat Ini
Pemikiran dan pandangan

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Komunitas Relawan Indonesia
Sehat

Jakarta
27 Januari 2026

I. Hasil pemantauan selama 3 Bulan khususnya di Jakarta

GambaraSituasi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Pertama
Pertumbuhan Ekonomi Makro Tumbuh sangat minim akan tetapi tidak “Kuat”

Data resmi menunjukkan ekonomi Indonesia masih tumbuh positif dengan angka di kisaran ± 5 % pada 2025.

Pemerintah bahkan menargetkan
5,4 % untuk 2026.

Pertumbuhan ini ditopang oleh:
konsumsi rumah tangga,
investasi pemerintah dan swasta,
kinerja ekspor-impor.

Namun lembaga independen seperti CORE memperkirakan bahwa pertumbuhan 2026 bisa hanya di 4.9 % – 5.1 %, sedikit lebih rendah dari target pemerintah dan tidak menunjukkan akselerasi yang kuat.

Intinya:
Secara makro terlihat tumbuh, tetapi perlambatan sektor aktivitas riil terasa di masyarakat.

Kedua
Kinerja Konsumsi dan Aktivitas Usaha Lesu
Indikator riil menunjukkan:
mall, pasar, toko pakaian, peralatan elektronik, dan restoran tampak sepi
banyak warung makan, kantin, dan pedagang kecil mengalami penurunan bahkan sampai di tutup (Hal ini kami alami sendiri dalam grup usaha)

pendapatan;
penurunan mobilitas konsumsi terutama di kelas menengah dan menengah-atas.

Ini sering menjadi sinyal menurunnya daya beli secara luas.
Meskipun data BPS menunjukkan konsumsi masih berkontribusi besar terhadap PDB, tren pertumbuhan konsumsi tidak setinggi periode sebelumnya sehingga suasana sendu terasa oleh pelaku usaha mikro.
Kesulitan ini dihadapi langsung oleh pengusaha

Kesimpulan: Pertumbuhan ekonomi makro belum tercermin secara proporsional ke aktivitas ekonomi harian di sektor perdagangan, jasa, dan retail.

Ketiga
Industri dan Sektor Riil
Ada Kontradiksi
Sektor industri manufaktur masih menunjukkan ekspansi dengan PMI di atas level netral 50, meskipun laju pertumbuhan melambat.

Namun, perasaan pelaku usaha di sektor perdagangan, penerbangan, hotel, dan perkapalan menunjukkan
permintaan turun,
utilisasi kapasitas rendah,
bisnis berjalan di bawah kapasitas.

Ini berkaitan erat dengan turunnya konsumsi masyarakat.

Ekspor, Impor & Perdagangan Internasional

  1. Neraca |Perdagangan Masih Surplus

Data BPS terakhir menunjukkan surplus neraca perdagangan Indonesia cukup kuat selama Januari-November 2025, terutama pada sektor non-migas.
Badan Pusat Statistik Indonesia

Perincian
Ekspor non-migas meningkat ±14 % terutama dari produk manufaktur dan komoditas seperti CPO, besi & baja, dan produk mineral.

Impor naik moderat sekitar ±4 % dengan dominasi barang modal (kapital goods).

Badan Pusat Statistik Indonesia
Perdagangan luar negeri Indonesia masih menjadi pendukung pertumbuhan ekonomi, bukan penalti.

  1. Tantangan di Ekspor Global

Proyeksi terakhir menunjukkan:
pertumbuhan ekspor masih menghadapi tekanan dari dinamika permintaan global.

Sementara permintaan global belum sepenuhnya kuat, ekspor Indonesia yang berbasis komoditas dan produk manufaktur rendah teknologi masih cukup tergantung pada harga komoditas dan tren global.

Potensi risiko
perlambatan permintaan global 2026-2027,
fragmentasi rantai pasok,
perubahan tarif dan kebijakan perdagangan internasional.

Kenapa Aktivitas Ekonomi Riil Terasa “Makin Memburuk”?

Dari fenomena yang saya amati (mall, pasar, restoran sepi), ada beberapa kemungkinan penyebabnya

  1. Daya Beli Rumah Tangga Menurun

Walaupun secara agregat konsumsi masih tumbuh, kenaikan harga barang pokok tertentu dan tekanan biaya hidup dapat mengurangi konsumsi non-pokok seperti pakaian, elektronik, dan santapan di luar rumah.

Inflasi inti relatif terkendali, tetapi harga pangan volatile tetap membawa beban bagi masyarakat berpendapatan rendah hingga menengah.

Badan Pusat Statistik Indonesia

  1. Ketidakpastian Global dan Kepercayaan Konsumen

Kondisi global yang kurang stabil (bank sentral negara maju menaikkan suku bunga, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia) berdampak pada kepercayaan konsumen dan investor.

  1. Modal Usaha Menyusut dan Kredit Mengendur

Bank dan lembaga keuangan cenderung semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredit usaha di masa ketidakpastian terutama kepada UMKM dan usaha kecil.

Ekspektasi Ekonomi 2026–2027

  1. Pertumbuhan Ekonomi

Proyeksi makro menunjukkan:
2026 diperkirakan tumbuh sekitar 5 % ± sedikit di atas atau di bawah angka tersebut.

Bank Dunia memproyeksikan ekonomi RI tumbuh sekitar 5 % tahun 2025-2026, lalu naik sedikit di 2027.

  1. Situasi Ekspor-Impor

Dengan surplus perdagangan yang masih berlanjut, ekspor menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi real growth ekspor menantang di tengah permintaan global yang lemah.
Langkah-Langkah Strategis untuk Menghadapi Kesulitan Ekonomi
Berdasarkan kondisi saat ini dan ekspektasi ke depan, berikut rekomendasi langkah yang dapat diambil oleh pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat

  1. Penguatan Daya Beli dan Konsumsi Domestik

Perlu stimulus yang tepat sasaran bagi rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah agar konsumsi tetap bergerak.
Kebijakan fiskal berupa bantuan langsung tunai, insentif pajak bagi UMKM, atau subsidi bersyarat bisa dipertimbangkan.

  1. Revitalisasi UMKM

UMKM adalah tulang punggung ekonomi domestik. Dukungan bisa berupa:
akses kredit yang lebih mudah,
pelatihan digital dan pemasaran online,
basis produksi berbasis lokal.

  1. Perbaikan Iklim Investasi

Untuk menarik investasi:
reformasi birokrasi yang lebih cepat,
kepastian hukum dan perlindungan investor,
insentif sektor manufaktur teknologi tinggi.
Hal ini membantu menambah lapangan kerja dan mendongkrak produktivitas.

  1. Diversifikasi Ekonomi

Kurangi ketergantungan pada ekspor komoditas primer dengan:
hilirisasi industri,
pengembangan manufaktur bernilai tambah,
investasi pada teknologi dan ekonomi digital.

  1. Kebijakan Moneter dan Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong kredit produktif tanpa mengorbankan inflasi yang tinggi.
Kebijakan suku bunga harus responsif terhadap tekanan eksternal.

  1. Reformasi Struktural

Reformasi menyeluruh di sektor tenaga kerja, pendidikan, dan infrastruktur akan membantu Indonesia keluar dari stagnasi pertumbuhan jangka panjang.

Sebagai akhir pandangan saya

Situasi ekonomi Indonesia saat ini menunjukkan kontradiksi
Secara makro masih tumbuh, namun aktivitas riil di masyarakat menunjukkan tekanan yang nyata.
Konsumsi menurun, dan pelaku usaha kecil serta sektor jasa berbasis konsumsi merasakan dampaknya. Pertumbuhan masih diproyeksikan positif, tapi tidak cepat dan masih menghadapi risiko global.

Langkah mitigasi yang tepat, sinergi kebijakan fiskal-moneter, serta fokus pada pemberdayaan UMKM dan konsumsi domestik adalah kunci untuk menghadapi tantangan ekonomi 2026-2027.

Leave a comment