Hujan Banjir dan Cinta serta Air Mata

Cerpen no. 0043

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026

Sahabatku, malam bergeser perlahan menuju subuh. Langit masih gelap, berat oleh awan yang belum selesai menumpahkan airnya. Ayam belum berkokok. Kota belum sepenuhnya terjaga. Namun di antara jarum jam yang bergerak pelan, ada kegelisahan yang tak bisa ditunda.

Aku terjaga. Di layar ponsel, suaraku menyeberangi laut—menuju Kapal LCT IRIS yang berlayar tanpa muatan dari Samarinda ke Jakarta. Sebuah perjalanan pulang yang seharusnya tenang, tetapi malam itu laut menolak bersahabat. Cuaca ekstrem memaksa kapal berjuang menghadapi ombak tinggi, angin kencang, hujan yang turun seperti tirai tanpa jeda. Badai datang bergulung, memukul lambung kapal dengan kekuatan alam yang tak bisa ditawar.

Dalam hati, aku membayangkan wajah-wajah yang kukenal satu per satu. Kapten kapal. Para perwira. Seluruh anak buah kapal. Mereka bukan sekadar kru. Mereka adalah ayah yang ingin pulang, suami yang dirindukan, anak yang menjadi harapan orang tua. Di lautan luas pagi telah datang. Di sanalah aku berdoa, doa seorang yang paham bahwa laut tak pernah bisa dijinakkan, hanya dihormati.

Kami mencari makan di laut dengan segala perjuangan. Demi keluarga. Demi bangsa. Demi negeri.

Kapal-kapal kami, seperti LCT IRIS, adalah nadi yang menghubungkan pulau dengan pulau, membawa mesin, alat berat, dan harapan pembangunan. Dari tambang di pelosok hingga jantung kota, semuanya bergantung pada keberanian manusia melawan alam, menembus ombak dan gelombang tinggi.

Dalam kegelapan malam, suara Kapten terdengar melalui sambungan yang terputus-putus. Tenang, tetapi sarat beban. Ia meminta izin dan restu. Kapal tidak bisa melanjutkan pelayaran. Cuaca terlalu berbahaya. Satu-satunya pilihan adalah berlindung di Kepulauan Masalembo, di utara Pulau Jawa. Kondisi saat itu, jarak 50 km ditempuh sekitar 10 jam. Hatiku runtuh perlahan. Sedih. Bukan karena perjalanan tertunda, melainkan karena aku tahu keputusan itu lahir dari pertarungan batin seorang Kapten yang memikul tanggung jawab nyawa banyak orang. Dengan suara yang kutahan agar tetap tegar, aku memberi restu. Berlindunglah. Ambil sikap aman. Shelter bukan tanda menyerah, melainkan tanda cinta pada kehidupan.

Kami berbicara singkat tentang cuaca. Sebagai pelaut, kami tidak diajarkan takut pada ombak, angin, hujan, atau badai. Tetapi kami selalu diajarkan satu hal keselamatan adalah hukum tertinggi. Tuhan tidak pernah menjanjikan cuaca yang selalu baik di laut Tidak pernah menjanjikan laut tanpa gelombang. Tetapi Tuhan menjanjikan pelabuhan tujuan yang indah. Dan kebahagiaan sejati awak kapal adalah tiba dengan selamat.

Telepon belum sempat kututup ketika pesan-pesan mulai masuk. Banyak. Bertubi-tubi. Dari darat.

Jakarta. Kota ini sedang tenggelam. Banjir telah melanda sejak hari-hari sebelumnya, tetapi hari ini air naik lebih tinggi, lebih cepat, lebih kejam.

Sekolah-sekolah meliburkan murid. Mereka menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Sebagian perusahaan memutuskan untuk work from home (wfh). Pabrik-pabrik menutup gerbang. Jalan-jalan utama berubah menjadi sungai keruh yang membawa lumpur, barang-barang rumah tangga, dan kadang kenangan. Menjelang subuh, laporan datang dari berbagai penjuru kota. Warga mulai mengungsi. Akses keluar masuk ditutup.

Di beberapa titik, air mencapai lebih dari satu meter. Aku belum bisa memejamkan mata. Bukan karena kopi atau lelah, tetapi karena nurani menolak diam.

Seorang ibu bernama Sari mengirim pesan suara. Tangisnya tertahan. Air sudah setinggi dada. Ia menggendong anak bungsunya, sementara dua anak lain berdiri di atas meja. Suaminya belum bisa pulang.

“Kami hanya bisa berdoa,” katanya. Doa itu terdengar rapuh, tetapi justru di sanalah kekuatannya. Di tempat lain, Pak Rahmat, buruh harian, duduk di atap rumahnya. Sepeda motor yang menjadi sumber penghidupannya hanyut. Semua peralatan kerjanya lenyap. Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga harapan. Ia tidak menangis. Mungkin karena air sudah terlalu banyak.

Pagi itu, kabar yang paling menusuk datang dari dua orang yang sangat kukenal. Bapak Endang Siaman, sopir pribadi saya, dan Bapak Wahyudin, sopir keluarga rumah.

Dua sopirku. Dua kepala keluarga. Dua orang sederhana yang setiap hari mengantar dengan kesetiaan, tanpa banyak bicara. Rumah mereka terendam lebih dari satu meter. Bapak Endang mengirim foto. Ruang tamu yang biasa rapi berubah menjadi kolam. Lemari kayu terendam. Kasur mengapung. Ia berdiri di sudut rumah, air setinggi dada, memeluk anaknya yang ketakutan. “Kami sudah naik ke loteng, Pak,” tulisnya singkat. Tidak ada keluhan. Tidak ada tuntutan. Hanya laporan. Bapak Wahyudin lebih lirih. Ia mengabarkan bahwa istrinya menangis sejak subuh. Surat-surat penting, buku sekolah anak, dan sebagian perabot tak sempat diselamatkan. “Saya tidak apa-apa, Pak,” katanya. Kalimat itu justru membuat dadaku sesak. Karena aku tahu, kalimat itu sering diucapkan oleh orang-orang yang paling menderita.

Di tengah banjir dan hujan, air mata jatuh tanpa suara.

KRIS (Komunitas Relawan Indonesia Sehat)

KRIS tidak boleh diam. Ini bukan sekadar organisasi. Ini adalah keluarga nurani. Kami bergerak. Menghubungi relawan. Menghubungi donatur. Membuka dompet bencana banjir Jakarta. Dompet yang dibuka bukan karena kelimpahan, tetapi karena kepedulian.

Relawan turun ke lapangan dengan jas hujan lusuh dan sepatu terendam. Mereka mengevakuasi lansia. Menggendong anak-anak. Menenangkan ibu-ibu yang panik. Mereka bekerja tanpa pamrih, tanpa kamera, tanpa janji. Di tengah cuaca buruk, mereka adalah cahaya kecil yang bertahan.

Seorang relawan muda menyelamatkan nenek Aminah yang menolak dievakuasi tanpa kucingnya. Kisah seorang relawan perempuan jatuh sakit karena kelelahan, tetapi tetap kembali ke lokasi pengungsian. “Kalau bukan kita, siapa lagi?” katanya.

Malam itu, laut bergelora dan kota terendam oleh lautan air. Dua dunia yang berbeda, tetapi disatukan oleh satu hal yakni cinta yang diuji.

Kapal LCT IRIS menunggu cuaca bersahabat. Jakarta menunggu air surut. Di antara keduanya, ada doa, ada air mata, ada tangan-tangan yang saling menggenggam.

Aku menutup hari dengan doa. Untuk awak kapal di laut. Untuk warga di darat. Untuk Bapak Endang dan Bapak Wahyudin. Untuk para relawan. Karena di balik hujan dan banjir, selalu ada cinta yang bekerja diam-diam menjaga bangsa ini agar tidak tenggelam oleh putus asa.

Dan aku percaya, seperti kapal yang akan tiba di pelabuhan tujuan yang indah, kita semua akan sampai. Dengan luka, dengan lelah, tetapi dengan hati yang tetap utuh dalam Cinta dan Bahagia.

Semoga Jakarta dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kuasa dibebaskan dan dikurangkan penderitaan para korban banjir, serta diberi perlindungan keselamatan

Www.kris.or.id

Leave a comment