Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS
Kisah keluarga ini belum lengkap karena tidak menceritakan anak cucu. Ini lebih cerita tentang kakak adik, dengan harapan mungkin di kemudian hari bisa dibuat buku, termasuk anak, cucu dan cicit. Semoga.
Sahabatku yang terkasih,
Di dunia yang begitu luas dan penuh hiruk-pikuk, satu tempat yang tak pernah berubah adalah keluarga. Dan bagi saya, keluarga adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan.
Kami sepuluh bersaudara, 5 laki-laki dan 5 perempuan. Kami hidup dalam suasana sederhana, damai, dan penuh kasih. Masing-masing dari kami punya cerita, pergumulan, pasang surut hidup, dan keunikan sendiri, namun tetap terikat oleh satu hal: cinta keluarga yang tidak pernah putus.
Akar Cerita: Papa dan Mama
Kisah kami tidak akan pernah ada dan bisa dimulai tanpa menceritakan dua sosok yang menjadi fondasi kehidupan kami: Papa dan Mama.
Papa, Johnny Ongko (Ong Soei Ping) lahir dan besar di Fuzhou, Tiongkok. Hidupnya penuh perjuangan sejak muda. Beliau ikut kakek merantau ke Indonesia dan akhirnya bekerja di PELNI. Dari Surabaya hingga pulau-pulau kecil di timur Indonesia, Papa hidup bersama laut. Ombak, angin, dan pelabuhan menjadi sahabatnya. Beliau penyayang, tegas, dan memiliki ketekunan yang luar biasa. Tuhan memberinya umur panjang, 95 tahun dan di sepanjang hidupnya, Papa tak pernah kehilangan kerendahan hati.
Mama, Magdalena (Tjia Soei Tju), sosok perempuan lembut namun kuat. Beliau mengasuh kami dengan kasih yang tak terhingga. Beliau mendidik kami untuk saling mengasihi, saling menjaga, dan tidak meninggalkan satu sama lain. Hobinya masak-memasak: Mie rebus, lumpia, kue perut ayam, bubur asin. Semua masak sendiri. Tangannya dingin. Selain menjahit, mama juga membuat makanan dan kue. Sejak kecil, kami belajar bikin kue kering dan jualan kue. Mama meninggalkan kami di usia 73 tahun, namun kasihnya tetap mengalir dalam darah kami sampai hari ini.
Kalabahi, Alor
Kami semua lahir di Kalabahi, Pulau Alor, NTT. Dari situlah semua kisah ini lahir. Di sana Papa pernah menjadi Kepala PELNI.
Pulau kecil itu, dengan angin asin laut dan debur ombak yang lembut, adalah saksi bisu dari masa-masa awal keluarga kami. Kenangan kami bertebaran di sana. Tawa, tangis, bercanda, sesekali kenalan anak kecil, menyanyi Bolelebo dan Mai Fali. Lagu kebanggan orang-orang NTT. Semua kebersamaan dan mimpi-mimpi kecil kami. Di Alor, kami hidup dalam ketercukupan, bukan kemewahan. Namun justru dari situlah tumbuh rasa syukur, kemandirian, dan semangat untuk selalu berjuang.
Mari Mengenal Kakak Adikku
Kakak nomor 1, July Ongko. Kakak perempuan tertua kami menjadi suster perawat di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya. Hidupnya didedikasikan untuk melayani sesama. July adalah pelita bagi orang sakit. Setiap orang yang mengenalnya pasti merasakan ketulusan hatinya. Namun Tuhan memanggilnya terlalu cepat. July meninggal di usia 30 tahun karena asma berat. Kepergiannya meninggalkan luka, namun juga teladan bahwa hidup yang singkat bisa menjadi berkat bagi banyak orang.
Kakak nomor 2, Ming atau George Artha, tinggal di Jakarta. Beliau seorang ayah dengan empat anak. Salah satu anaknya, Dr. Ir. Ridwan, dikenal sebagai ahli manajemen yang disegani. Kakak Ming adalah sosok yang bijaksana, pendiam namun penuh perhatian. Ia seperti penopang yang selalu ada ketika keluarga membutuhkan. Beliau suka sekali makan kepala ikan kakap Medan Baru di Griya Sunter
Kakak nomor 3, Christina, tinggal di Kupang, adalah ibu dari Tony Dima, MM, Ketua KRIS NTT. Christina adalah perempuan kuat, penuh kasih, dan menjadi figur penting dalam jaringan keluarga kami terutama di Nusa Tenggara Timur. Dialah penghubung, jembatan antara kami yang tinggal berjauhan. Ia selalu membawa cerita, kabar, dan kehangatan dari timur.
Kakak nomor 4, Herline (Ay Hoa), nama yang indah, dan begitulah hidupnya. Ia adalah pengusaha tangguh, cekatan, dan pekerja keras yang tinggal di Surabaya. Namun pada usia 51 tahun, Tuhan memanggilnya pulang. Kepergiannya menyisakan kekosongan besar, namun juga kenangan tentang kegigihan dan keberanian seorang perempuan yang pantang menyerah.
Kakak nomor 5 Risal, Penasihat KRIS, tinggal di Bandung. Seorang pengusaha kapal dan ahli bahan peledak. Beliau aktif di gereja, suka bercanda, dan dikenal sebagai “gudang cerita”. Jika keluarga adalah sebuah pesta, Risal adalah suara tawa yang paling keras. Sosok yang membuat keluarga menjadi hangat.
Kakak nomor 6, Steve, yang ulang tahunnya dirayakan hari ini (23 Jan), tinggal di Surabaya. Beliau lulusan Teknik Mesin Trisakti tahun 1973. Attitude-nya sederhana, rajin, tekun, dan tak pernah mengeluh. Hobinya cari makan enak. Kalau ke Surabaya, tidak lupa aku diajak ke tahu campur di Kalasan kalau ada Pak Dahlan Iskan. Sama doyan duren. Hubungannya dengan gereja begitu erat, hingga banyak orang mengenalnya sebagai sosok yang selalu siap membantu. Hidupnya adalah bukti bahwa kesetiaan pada pelayanan membawa kedamaian.
Kakak perempuan nomor 7, Elianora. Beliau adalah pengusaha logistik di Surabaya. Pribadinya kuat, tegas, namun berhati lembut. Beliau menjaga keluarga dengan mata dan hati seorang kakak perempuan sejati.
Saya, Adharta, anak ke-8. Tinggal di Jakarta, lulusan Teknik Sipil Trisakti tahun 1977 dan MBA Prasetiya Mulya tahun 1984. Jalan hidup membawa saya menjadi Ketua Umum KRIS. Saya tidak sempurna, namun satu hal pasti: saya mencintai keluarga saya. Segala perjuangan saya hari ini adalah warisan dari Papa dan Mama ketekunan, kasih, dan kerendahan hati.
Adik laki laki nomor 9, Freddy, tinggal di Kupang, adalah Penasihat KRIS. Beliau aktif di Gereja Bethany dan pemilik Hotel Ima Kupang. Freddy dan istrinya, Mariana, adalah pilar KRIS NTT. Mereka mendukung program stunting di TTU, membantu penanganan COVID-19, dan tak pernah menolak jika diminta membantu. Freddy adalah gambaran adik yang setia pada keluarga, Tuhan, dan masyarakat.
Adik perempuan nomor 10, Monalisa. Adik saya yang bungsu ini adalah dokter gigi yang tinggal di Singapura. Jika ada urusan rumah sakit, perawatan, atau kesehatan di Singapura, dialah “peta hidup” yang tahu semuanya. Ia cerdas, perhatian, dan selalu menjadi tumpuan keluarga saat ada yang sakit.
Sejak saya sakit operasi berulangkali di Singapura, drg. Monalisa selalu mendampingi istri saya drg. Magdalena dalam suka dan kesulitan. Mulai operasi Jantung sampai terakhir pasang ICD
Kekuatan Kami Hidup Rukun & Damai
Meski perjalanan hidup kami penuh badai kehilangan orang tersayang, perjuangan ekonomi, merantau ke banyak kota, kami tetap hidup rukun dan damai. Kesederhanaan hidup membuat kami mengerti arti saling menopang.
Kami tidak kaya harta, tetapi kami kaya cinta. Kami tidak selalu sempurna, tetapi kami selalu bersama. Ada banyak kenangan kecil tak terlupakan yang menjadi perekat keluarga.
Papa menggandeng kami ke pelabuhan, memperlihatkan kapal-kapal besar sambil bercerita tentang ombak dan badai.
Mama memasak hidangan sederhana, namun rasanya seperti cinta yang dituangkan di piring. Malam-malam di Kalabahi, kami duduk di teras rumah, melihat bintang yang seakan jatuh ke laut. Tawa kami saat berkumpul, tangis kami saat kehilangan, doa kami yang tak pernah putus–itulah kekayaan sejati keluarga kami.
Akhir kata, keluarga besar kami adalah bukti bahwa cinta tidak selalu lahir dari kemewahan, tetapi dari hati yang saling menjaga. Kami lahir dari kesederhanaan, namun tumbuh dengan kekuatan untuk saling menopang.
Saya bangga menjadi bagian dari keluarga ini. Saya bangga memiliki kakak dan adik yang rukun, penuh kasih, dan satu hati. Dan setiap kali saya melihat ke belakang, saya tahu apa pun yang telah saya capai hari ini di KRIS, di pekerjaan, dalam hidup adalah karena saya dibesarkan oleh keluarga yang penuh cinta. Inilah keluarga kami.
Inilah warisan Papa dan Mama. Inilah kisah buat anak-anak dan cucu-cucu. Kelak kalian semua mewarisinya.
Aliran air mata suka cita menutup kisahku.
