Perjuangan seorang Ibu

Cerpen no 0041

Oleh: Adharta
Ketua Umum
KRIS

Namanya Merry. Nama yang sederhana, namun hidupnya jauh dari kata ceria.

Sejak kecil, Merry sudah belajar arti kehilangan. Ia bukan yatim piatu sejak lahir, tetapi keadaan membuatnya tumbuh tanpa sapaan dan pelukan orang tua.

Orang tuanya tinggal di Indramayu, hidup sederhana sebagai buruh tani, dan karena keterbatasan ekonomi, Merry kecil tinggal bersama sebuah keluarga di Bandung. Mereka adalah Bapak Alfons dan Ibu Risma. Pasangan itu tidak memiliki anak.

Rumah mereka tidak besar, tetapi hangat. Sejak hari pertama, Merry tidak pernah diperlakukan sebagai orang asing. Ia dipanggil “Nak”, disuapi ketika sakit, dipeluk ketika menangis.

Dalam hati kecilnya, Merry merasa di sinilah rumahnya.

Tahun-tahun berlalu. Merry tumbuh menjadi gadis pendiam namun rajin. Ia menyelesaikan sekolahnya dengan baik hingga tamat SMA. Ia bermimpi sederhana: bekerja, membantu orang tua angkatnya, dan suatu hari merawat mereka di masa tua. Namun hidup tidak selalu ramah pada mereka yang tulus.

Setelah kelulusan SMA Merry, rumah itu mulai sering didatangi kerabat.

Wajah-wajah yang sebelumnya jarang terlihat, kini datang silih berganti. Senyum mereka manis, tetapi kata-katanya menusuk.

Bisikan mulai terdengar. Tentang harta. Tentang warisan. Tentang darah dan bukan darah. Merry mendengar semuanya, meski tidak pernah diajak bicara langsung.

“Dia bukan anak kandung.” “Nanti semua harta jatuh ke dia.” “Lebih baik dia pergi.”

Setiap kata itu seperti pisau kecil yang ditancapkan perlahan ke dadanya. Bapak Alfons dan Ibu Risma tidak pernah mengatakan apa pun secara langsung. Mereka hanya semakin sering terdiam.

Ibu Risma sering menangis diam-diam di dapur. Bapak Alfons semakin banyak melamun di teras. Mereka sudah tua. Mereka lelah melawan. Suatu malam, Merry memberanikan diri bicara.

“Pak… Bu… kalau Merry harus pergi, Merry akan pergi.”

Ibu Risma langsung menangis tersedu. Tangannya gemetar memeluk Merry. “Maafkan Ibu, Nak… Ibu lemah…” Bapak Alfons hanya menunduk. Air matanya jatuh satu per satu ke lantai. Malam itu, Merry membereskan pakaiannya dengan tangan gemetar.

Tidak banyak yang ia bawa. Hanya pakaian seadanya dan sebuah tas kecil. Tidak ada uang, tidak ada tujuan, hanya luka di hati.

Saat melangkah keluar rumah itu, Merry menoleh sekali lagi.

“Maafkan Merry, Pak… Bu… Merry akan selalu mendoakan kalian…”

Langkahnya terasa berat, seakan separuh jiwanya tertinggal di rumah itu. Dengan tabungan yang nyaris tidak ada, Merry akhirnya masuk ke barak penampungan calon TKI.

Ia tidak bermimpi besar. Ia hanya ingin bertahan hidup. Di sana, ia bertemu Pak Harto lelaki berusia 55 tahun. Orang sekampung dari Indramayu. Wajahnya lelah, rambutnya memutih, namun matanya lembut. Ia sudah lama sendiri, mengelola usaha kecil penyaluran calon TKW. Dalam keterasingan, dua manusia yang sama-sama terluka menemukan sandaran. Merry tahu, menerima pinangan Pak Harto bukan karena cinta seperti di cerita-cerita indah.

Tapi di kampung, usia delapan belas tahun tanpa menikah dianggap aib. Dan hidup sendirian lebih menakutkan daripada menikah dengan lelaki yang baik namun jauh lebih tua.

Mereka menikah dengan sederhana. Tanpa gaun putih. Tanpa pesta. Tanpa restu orang tua. Tiga tahun berlalu. Dua anak perempuan lahir dari rahim Merry. Anak-anak itu menjadi cahaya kecil di tengah hidupnya yang gelap.

Namun kebahagiaan itu rapuh. Pak Harto mulai sering sakit. Batuknya tidak kunjung sembuh. Napasnya pendek. Tubuhnya semakin kurus. Usaha mereka pun menurun drastis. Rumah kontrakan semakin terasa sesak oleh kecemasan. Biaya rumah sakit menguras semua yang mereka miliki.

Suatu malam, di ruang rawat yang sunyi, Pak Harto menggenggam tangan Merry. “Maafkan Bapak… Bapak tidak bisa meninggalkan apa-apa…”

Merry menangis tersedu, menahan jerit yang ingin keluar. “Bapak jangan pergi… anak-anak butuh Bapak…”

Namun takdir tidak mendengar doa orang miskin. Pak Harto meninggal di usia 60 tahun, karena kanker paru-paru.

Dunia Merry runtuh dalam sekejap. Ia kini seorang janda muda dengan dua anak kecil, tanpa harta, tanpa sandaran. Usaha bangkrut. Rumah kontrakan harus ditinggalkan.

Ia pulang ke Indramayu, berharap menemukan orang tuanya. Tetapi yang ia temukan hanya kabar duka. Kedua orang tuanya telah meninggal karena wabah Covid-19. Di atas tanah kuburan, Merry jatuh terduduk. Tangisnya pecah. Tidak ada lagi tempat pulang. Tidak ada lagi orang tua. Tidak ada siapa-siapa. Hidup di kampung sangat berat.

Mencari pekerjaan hampir mustahil. Setiap malam, Merry memeluk anak-anaknya sambil menahan tangis.

“Apa Ibu salah membawa kalian ke dunia ini?” bisiknya dalam hati.

Ia tahu, Bandung memberi peluang lebih besar. Dengan hati yang hancur, ia kembali ke kota itu. Dengan bantuan kenalan TKW, ia berhasil menitipkan kedua anaknya di Panti Asuhan Sindanglaya.

Hari pertama meninggalkan anak-anaknya adalah hari paling menyakitkan dalam hidupnya. Anak sulungnya memeluk kakinya, menangis histeris. “Ibu jangan pergi…”

Merry hampir pingsan menahan sakit di dada.

Namun ia tahu, ini satu-satunya jalan. Ia berangkat ke Tawau, Malaysia, menjadi TKW. Di negeri orang, ia bekerja di supermarket penampungan sambil menunggu panggilan kerja.

Setiap malam, ia menangis dalam sunyi, memeluk baju anak-anaknya yang ia bawa. Akhirnya, ia diterima bekerja sebagai pengantar barang logistik di Kota Kinabalu. Gajinya lumayan, tetapi jam kerjanya kejam, 20 jam sehari. Tubuhnya hancur. Kakinya bengkak. Kepalanya pusing. Hatinya kosong. Ia jatuh sakit berat.

Dengan tubuh yang hampir menyerah, Merry memutuskan pulang ke Bandung.

Ia membuka warung kecil, warteg sederhana. Hidup pas-pasan, tapi hatinya sedikit lebih tenang karena bisa sesekali menjenguk anak-anaknya di panti asuhan. Setiap kali melihat mereka tertawa, air matanya selalu jatuh.

Hidupnya sunyi. Tidak ada pasangan. Tidak ada keluarga. Hanya doa dan harapan.

Namun Merry percaya satu hal: Tuhan tidak menciptakan seseorang untuk hidup sendirian selamanya.

Ia terus berjuang. Terus mencari penghidupan yang lebih layak. Terus berdiri meski sering jatuh. Karena ia tahu, selama napas masih ada, harapan tidak akan pernah benar-benar mati.

Dan perjuangan Merry… belum berakhir.

http://www.kris.or.id

Leave a comment