Kota yang Tak Pernah Menunggu

Cerpen no 0040
Oleh: Adharta Ketua Umum KRIS

Awal Januari 2026

Sebuah perjuangan hidup

Namanya Pandi. Seorang pemuda dari Kalimantan Barat, lahir di rumah kayu sederhana yang setiap sore dipeluk suara adzan dan desir angin sungai.

Pandi bukan anak orang berada. Ayahnya buruh, ibunya perempuan tabah yang selalu menunggu di beranda dengan doa yang tak pernah putus.

Sejak SMA, Pandi tahu satu hal: hidup tidak akan memberinya jalan lurus.

Setelah tamat SMA, dengan ijazah lusuh dan mimpi yang masih polos, Pandi bermigrasi ke Jakarta. Baginya, kota itu seperti janji berkilau, keras, dan tak pernah peduli siapa yang datang dengan harapan atau luka.

Pandi diterima di sebuah universitas. Jurusan Teknik Sipil adalah cita-cita yang ia simpan sejak kecil. Membayangkan suatu hari bisa membangun jembatan agar orang-orang tak perlu lagi menyeberang sungai dengan perahu rapuh seperti di kampungnya.

Pagi kuliah, malam kerja. Begitulah hidupnya bertahun-tahun. Siang ia duduk di bangku kelas, mencatat rumus, menggambar struktur. Malam ia berubah menjadi apa saja yang bisa menghasilkan uang: pernah narik taksi, jual beli motor, jadi makelar rumah, hingga jualan makanan online dengan ponsel tua yang layarnya retak.

Pandi tidak memilih pekerjaan. Ia hanya memilih bertahan. Namun mimpi itu perlahan retak. Saat sampai di tingkat sarjana muda, biaya kuliah menghantamnya tanpa ampun. Pandi mencoba bertahan, mengajukan beasiswa ke tujuh universitas. Satu per satu penolakan datang. Tidak ada yang mau menolong pemuda pendiam dengan mata lelah itu.

Akhirnya Pandi menyerah bukan karena malas, tapi karena tak punya pilihan.

Pandi memutuskan bekerja penuh, mengumpulkan uang, berharap suatu hari bisa kembali kuliah.

Tapi Jakarta tidak ramah pada orang yang berharap. Pandi mencoba menjadi caddy golf di lapangan golf Rawamangun.

Tiga tahun. Pandi berjalan kaki di bawah matahari, mengangkat tas golf mahal, mendengar tawa orang-orang kaya. Tujuannya sederhana mendekati para bos, siapa tahu ada rezeki, ada jodoh pekerjaan. Ironisnya, Pandi sendiri pemain golf, single handicap.

Tapi pengetahuan dan kemampuan tak pernah cukup tanpa koneksi. Lapangan golf mahal hanya menerima caddy perempuan. Ia melamar jadi Caddy Master, tapi kalah oleh persaingan yang kejam. Ia pindah menjadi calo rumah dan mobil bekas.

Untung pekerjaan ada, tapi biaya operasional tinggi, permainan licik, dan hati kecilnya mulai menolak.

Pandi sebenarnya pandai mengaji. Ia mencoba menjadi guru agama. Bertahan setahun. Tapi jiwanya tidak tenang. Bukan karena mengajar itu salah, melainkan karena ia tahu, hatinya dipenuhi kegelisahan yang belum selesai.

Lalu ia membuka usaha tambal ban mobil. Hasilnya lumayan karena dibantu penyebar paku di jalanan. Tapi setiap malam setelah mengaji, dadanya sesak. Rezeki ini tidak halal, bisik hatinya. Akhirnya Pandi berhenti kerja tambal ban dengan intrik mencabut paku yang tertancap di ban, lalu bagi hasil sama mafia jalanan yang menebar paku-paku tajam. Tanpa sadar, 10 tahun berlalu di Jakarta. Usianya kini lebih dari 30 tahun.

Teman-temannya sudah menikah, punya rumah, punya gelar. Sedangkan Pandi maju salah, mundur lebih salah. Ia mencoba jadi sopir truk. Tubuhnya tak sanggup karena beratnya pekerjaan 24 jam nonstop. Akhirnya Pandi mencoba menjadi sopir pribadi. Setiap hari Pandi mengendarai mobil mewah yang bukan miliknya.

Tangannya memegang setir mahal, tapi hidupnya tetap di tempat.

Cita-cita menjadi sarjana teknik sipil telah runtuh. Hampir 10 tahun Pandi menjadi sopir pribadi walaupun ganti majikan, ganti alamat, tapi nasibnya tak pernah berubah.

Malam hari, saat Jakarta terlelap, ia masih berjuang. Ia menjadi guru les online, membantu mahasiswa. Bahkan menjadi joki skripsi, selama itu halal.

Empat tahun lalu, ayahnya meninggal dunia. Pandi tidak sempat menemani di detik terakhirnya. Ia hanya bisa menangis di kamar sempit Jakarta, menggenggam ponsel yang bergetar membawa kabar duka.

Sejak itu, satu tekadnya tak berubah: mengirim uang untuk ibunda tercinta. Ia menunda bahagia. Menunda jodoh. Menunda kenyamanan hidupnya sendiri.

Cinta? Ia sudah lupa rasanya dicintai. Sepanjang hidupnya, Pandi belum pernah hidup senang. Tak pernah punya rumah sendiri. Tak pernah liburan. Tak pernah merasa aman. Ironisnya, Pandi setiap hari mengendarai mobil orang kaya mobil yang harganya setara puluhan tahun hidupnya.

Di dalam mobil, saat menunggu majikan, Pandi sering menunduk. Butiran air matanya jatuh diam-diam. Bukan karena iri. Tapi karena lelah menjadi kuat sendirian. Ia bertanya pada Tuhan: “Apakah salah aku bermimpi?”

Dan Tuhan menjawab dengan diam. Diam yang panjang. Namun Pandi tetap hidup. Tetap bekerja. Tetap mengaji. Tetap mengirim uang ke kampung. Karena mungkin, kehidupan bukan tentang menang, melainkan tentang tidak menyerah, meski kalah berkali-kali. Dan terus bertahan selama napas masih ada,

Pandi pemuda dari Kalimantan Barat akan terus berjalan, meski jalannya basah oleh air mata.

http://www.kris.or.id | http://www.adharta.com

Leave a comment