Cerpen no 0038
Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS
Desember akhir 2025
Kota
Jakarta malam itu tidak tidur.
Lampu-lampu gedung menjelma menjadi bintang bintang di bumi, jalanan berkilau oleh pantulan hujan sore, dan udara akhir tahun membawa aroma rindu yang manis.
Di antara hiruk-pikuk kota yang biasanya tergesa, malam itu waktu seakan melambat
memberi ruang bagi cinta untuk bernapas.
Di sebuah rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan, tawa mengalir seperti alunan musik. Bukan tawa yang dibuat-buat, melainkan tawa yang lahir dari rasa aman, dari hati yang diterima apa adanya.
Arga duduk di anak tangga teras, memegang secangkir teh hangat.
Matanya menatap langit Jakarta yang sesekali disinari kilatan kembang api dari kejauhan.
Di balik kebisingan kota, ada satu nama yang berulang kali bergetar di dadanya:
Nara.
“Arga, jangan melamun.
Nara sudah datang,” suara ibunya terdengar lembut.
Arga berdiri. Jantungnya berdegup seperti genderang kecil yang bersemangat menyambut pergantian tahun.
Nara melangkah masuk dengan senyum yang selalu berhasil membuat Jakarta terasa lebih ramah. Jaket tipis membalut tubuhnya, rambutnya tergerai, dan matanya memantulkan cahaya kebahagiaan yang jujur.
“Hai,” ucap Nara.
“Hai,” jawab Arga, disertai senyum yang tak bisa ia sembunyikan.
Kedua keluarga telah berkumpul di ruang tamu. Ayah Arga dan ayah Nara berbincang akrab tentang Jakarta tempo dulu
tentang bus kota, tentang hujan yang selalu datang tiba-tiba, tentang mimpi-mimpi yang tumbuh di tengah beton.
Ibu-ibu tertawa kecil, sesekali saling menyodorkan kue dan cerita masa muda.
Tak ada sekat.
Tak ada rasa canggung.
Hanya kehangatan yang mengalir begitu saja.
Meja makan dipenuhi hidangan sederhana, tetapi malam itu terasa seperti perjamuan istimewa.
Setiap suapan disertai canda, setiap tawa menjadi doa yang diam-diam dipanjatkan.
Arga dan Nara duduk bersebelahan. Sesekali bahu mereka bersentuhan, dan setiap sentuhan kecil itu terasa seperti janji yang tak terucap.
“Kamu tahu,” bisik Nara sambil tertawa kecil, “aku biasanya tidak suka keramaian Jakarta saat tahun baru.”
“Lalu kenapa sekarang kamu tersenyum terus?” tanya Arga menggoda.
“Karena kali ini Jakarta terasa… rumah,” jawab Nara pelan.
Di luar, suara petasan mulai terdengar lebih sering.
Kota bersiap menyambut waktu yang baru. Namun di dalam rumah itu, kebahagiaan telah lebih dulu hadir.
Menjelang tengah malam, semua berkumpul di halaman. Jakarta berdengung, seperti jantung raksasa yang berdetak penuh harap.
Hitungan mundur dimulai
diselingi tawa, saling goda, dan sorak yang tak sempurna namun tulus.
Sepuluh…
Sembilan…
Delapan…
Arga melirik Nara.
Nara tersenyum, matanya berbinar.
Tiga…
Dua…
Satu…
Horeeeee
Langit Jakarta meledak dalam warna.
Kembang api menari di udara, memantulkan cahaya di wajah-wajah yang bahagia.
Tahun berganti, dan sorak sorai membaur dengan doa-doa yang melayang tanpa suara.
“Selamat tahun baru,” ucap Arga.
“Selamat tahun baru,” balas Nara, tertawa.
Mereka tertawa bersama, tanpa alasan selain rasa senang yang meluap. Tawa remaja yang ringan, tetapi sarat makna.
Tawa yang tidak takut pada masa depan, karena cinta memberi keberanian.
Di antara riuh kembang api, Arga dan Nara duduk kembali di teras.
Angin malam Jakarta menyapa lembut.
Dari kejauhan, klakson mobil bersahutan seperti irama kota yang ikut merayakan.
“Apa harapanmu tahun ini?” tanya Arga.
Nara terdiam sejenak. “Aku ingin tetap sederhana.
Tetap bisa tertawa.
Tetap punya orang-orang yang saling menggenggam, bukan saling menjauh.”
Arga mengangguk. “Aku ingin belajar mencintai dengan benar. Bukan hanya mencintaimu, tapi juga menghargai keluarga, waktu, dan mimpi.”
Di belakang mereka, kedua keluarga masih berbincang hangat.
Ada tawa orang dewasa yang tenang, ada nasihat yang disampaikan tanpa menggurui. Harmoni itu terasa nyata
seperti pelukan panjang yang melindungi dua hati muda yang sedang belajar mencinta.
Malam semakin larut, tetapi kebahagiaan tidak ingin segera pulang.
Ketika akhirnya Nara harus kembali, mereka berdiri di depan rumah.
Lampu jalan Jakarta menyinari wajah mereka dengan cahaya kuning keemasan.
“Terima kasih untuk malam ini,” kata Nara.
“Terima kasih sudah membuat akhir tahunku sempurna,” jawab Arga.
Tak ada janji besar.
Tak ada kata berlebihan.
Hanya senyum, dan keyakinan bahwa cinta yang sederhana sering kali adalah yang paling jujur.
Nara melangkah pergi.
Arga menatap punggungnya hingga menghilang di tikungan jalan.
Ia kembali memandang langit Jakarta
kembang api telah reda, tetapi hatinya masih penuh cahaya.
Di kota yang tak pernah benar-benar diam ini, cinta remaja tumbuh dengan caranya sendiri.
Di antara tawa dan canda, di bawah restu keluarga yang harmonis, cinta itu menjadi harapan.
Harapan bahwa kebahagiaan bukan sekadar impian.
Harapan bahwa cinta penuh suka cita akan selalu menemukan jalannya.
Dan di setiap akhir tahun, Jakarta akan selalu menjadi saksi:
bahwa cinta
sekecil apa pun
layak dirayakan.
Selamat tahun baru 2026
Www.kris.or.id
Www.adharta.com
