Posts Tagged ‘Makanan Rohani’

Masak

Kalau makanan enak, mertua lewat pun dicuekin.

Salah satu hobiku adalah masak-memasak. Saya bisa masak apa saja. Saya bisa masak masakan Chinese, European, Jawa dan Makasar. Saya juga bisa buat kue. Saya paling suka buat kue perut ayam atau istilah kerennya pretzel. Selain kue itu, saya pun bisa buat kue taart dan blackforest, juga marble.
Selama masa kecilku, saya selalu berurusan dengan kue karena saya adalah penjual jual kue dan roti. Bagi orang biasa, memasak adalah pekerjaan yang melelahkan tapi kalau suka masak, ini termasuk seni, bahkan enjoy sekali. Apa lagi kalau kita masak dan rasanya enak. Kegemaranku salah satunya Lumpia atau Popia.
Suatu hari di Changi Airport ada promosi Singapore Pohpia. Siapa saja boleh makan gratis. Sesukanya adonan disediakan dan kalau mau campur sendiri pun boleh dengan sayuran, sambel, kulitnya dan penggorengan. Kita juga bisa makan saja yang sudah jadi.
Dasar iseng. Saya tawarkan kalau saya yang buat dengan cara dan campuran sendiri, demikian juga adonan bumbunya. Sayang sekali rasanya jadi amburadul karena keterbatasan bumbu. Tetapi, di luar dugaan saya ternyata ada banyak hadirin ingin coba. Mereka semua pilih buatanku. Saya tak tahu bagaimana komentar mereka karena waktu boarding sudah dekat terpaksa kutinggalkan begitu saja.
Memasak itu seperti olahraga atau melukis. Kita harus memiliki keterampilan, kepekaan panca indra (wanginya, semerbaknya dan rasa/taste juga cara penyajiannya), tetapi bagi seorang pakar memasak ada sesuatu yang berbeda. Sama seperti penjahit baju bisa saja cara jahitnya sama tetapi taylor yang pakar hasilnya akan lain.
Memasak kalau susunan urut-urutan beda rasanya juga beda. Apalagi kalau kue wah kita harus sensitif sekali soal apinya, panasnya, kepekatannya, dan adonanya. Semua memerlukan konsentrasi tinggi. Tahun 2000 saya menjuarai Lomba Buat Nasi Goreng Se-DKI Jakarta. Acara ini di selenggarakan oleh Kokita bumbu masak. Hasil nasi gorengnya dijual buat charity.
Menikmati makanan itu ibarat hidup dalam sorga dunia. Kata pepatah “Mertua” lewatpun di cuekin saja. Atau mata dan telinga hampir tidak berfungsi saking enaknya makanan.
Kuliner memang memberikan tempat khusus. Mama saya begitu cintanya terhadap anak-anak, beliau selalu membuat anak-anak senang melalui makanan. Baik teman sekolah, teman main, dan warga lingkungan pasti pernah mencicipi makanan buatan almarhumah mama saya.
Bercerita tentang makan tentu tidak akan habis. Apakah kita makan untuk hidup? Atau hidup untuk makan? Memang manusia tidak bisa dipisahkan dari makanan. Makanan jasmani membuat daya tahan tubuh. Makanan rohani memberikan kebahagiaan. Baik makanan jasmani maupun makanan rohani sama-sama tergantung tukang masaknya.
Suatu hari ada sahabat pastor bilang ke saya bahwa ke gereja jangan lihat pastornya siapa? Tetapi kita ke gereja untuk menghadap Tuhan dan berdoa. Saya kurang setuju karena menurut hukum alam, seekor burung pun akan mencari makanan enak buat anak-anaknya. Naluri kemanusiaan kita mengatakan lain, kecuali kondisi tertentu, bahwa gereja harus bisa memasak masakan rohani yang harum semerbak dan lesat. Oleh karena itu, cara penyajian yang aduhai pun sangat diperlukan …. Biar mertua lewat pun di cuekin!
Semoga kebahagiaan mendampingi sahabat semua. Mari cari makanan rohani. Kecaplah betapa sedap dan nikmatnya Tuhan memberikan makanan rohani kepada kita semua.