Lebih

Tiada yang lebih indah dari Cinta Kasih, tetapi itu pun belum cukup karena masih ada batasan, yang lebih dari itu adalah pengorbanan (Mother Teresa)

IbuBapa1Dalam hati saya sering bertanya, mengapa kita manusia selalu mau lebih, tidak mau kurang!
Mau orang lain lebih mencintai kita! Mau orang lain lebih berkorban untuk kita!
Apa saja kalau bisa kita lebih dari pada orang lain, bagaimana kalau fenomena ini kita terapkan dalam Cinta Kasih, terutama terhadap Tuhan dan Sesama? Bagaimana kita memberikan kepada Tuhan “lebih” dan memberikan pelayanan kepada sesama kita “lebih” baik?
Tiada yang lebih indah dari Cinta Kasih, tetapi itupun belum cukup karena masih ada batasan, yang lebih dari itu adalah pengorbanan. Cucu saya kalau mau tambah makan dia memberikan simbol hati dengan empat jari tangan. Kiri dan kanan membentuk hati atau huruf “M”. Katanya itu “more”. Perilaku itu lucu sekali karena selalu minta lebih walaupun sudah dikasih lebih.
Saya sering memberi catatan bahwa kita juga demikian karena selalu minta lebih walau sudah lebih, tapi simbol “M” boleh mengingatkan kita untuk lebih.
Kalau kita orang jawa banyak menggunakan nama “Su” yang berarti lebih baik. Contohnya : Sukarno president pertama kita, Karno artinya telinga atau pendengaran, jadi kalau Sukarno berarti pendengarannya lebih baik. Demikian presiden kedua kita Suharto.
Ada jokes di kantor saya karena ada Bapak Sutadi. Kata saya ” Tadi” nya baik, tapi kata beliau sekarang “lebih” baik lagi, demikian nama “Su” dipakai oleh masyarakat jawa untuk menyatakan “lebih”.
Sekembalinya saya dari tugas keliling ke beberapa negara dalam rangka mengadakan kerja sama bilateral perusahaan, saya selalu mempromosikan perusahaan saya “lebih” dari yang ada. Saya bahkan cenderung untuk melampaui batasan, tetapi seperti kata dosen saya, Bapak Pang Lay Kim bahwa :”Kita harus lebih dari sesuatu yang kita miliki supaya kita selalu ada sisa.” Mungkin beliau selalu melihat simbol ikan dalam setiap lukisan tertulis “Nien Nien You Ie” Ie disini berarti “lebih” disimbolkan dalam gambar ikan. Artinya tiap-tiap tahun ada sisa, atau lebih. Dan saya berusaha supaya memang harus ada lebih, kalau di perusahaan ya artinya harus ada untung.
Ada cerita menarik dari sahabat saya seorang biksu di Singapura. Beliau justru menyebutnya terbalik bahwa hidup itu harus dikurangi supaya kita itu dapat lebih, mulai dari makan, pakaian, hiburan semua harus dikurangi. Saya bercanda dengan beliau kalau rambut pun harus dikurangi supaya kita tahu kalau rambut itu tumbuh. Kalau tidak kita tidak tahu ada yang lebih. Beliau sepakat dengan saya demikian rambut para biksu harus gundul. Pagi ini saya mau memberi salam “lebih” buat semua sahabat. Semoga semua sahabat lebih diberkati, lebih dicintai dan lebih berbela rasa terhadap sesama. Doaku menyertai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: