Ikat Pinggang

Untuk membangun negara, maka usaha pertama seluruh rakyat adalah melakukan gerakan ikat pinggang atau menghemat (Mc Arthur).

1Saat selesai perang dunia ke-2, Jepang adalah negara yang paling menderita, karena seluruh kekayaan negara dipertaruhkan untuk memenangkan peperangan. Akibatnya negara bangkrut dan hidup sengsara. Kaisar mengeluarkan perintah gerakan ikat pinggang atau Berutto (ベルト) sampai Hinode Jikoku atau Saat Matahari Terbit, seluruh rakyat harus mengikat pinggang atau hemat. Gaji dipotong 50 persen. Orang kaya menyumbangkan hartanya untuk membangun negara dari keterpurukan. Hal itu tidak terlepas dari jasa Jenderal Mc Arthur yang juga sangat concern membangun negara.
30 tahun kemudian Jepang bangkit menjadi negara adidaya, terutama di bidang ekonomi, industri dan perdagangan. Hampir seluruh dunia iri hati dan membenci Jepang, termasuk Indonesia yang mau membendung masuknya barang-barang Jepang ke Indonesia. Monopoli perdagangan yang dituangkan dalam gerakan menolak produk Jepang sampai pada peristiwa Malari (lima belas Januari 1974).
Hasil gerakan ikat pinggang luar biasa sebab sampai tahun 1980 Jepang tidak bisa membendung kekayaannya sehingga giliran kaisar memerintahkan rakyat jangan pelit (aneh). Saking kayanya semua rakyat disuruh belanja keluar negeri sambil jalan-jalan. Mereka perlu membelanjakan uang yang berlebihan yang karenanya mengakibatkan banyak pengangguran. Beras mereka yang berlebihan disumbangkan ke negara miskin termasuk Indonesia. Anehnya, Indonesia yang dapat beras untuk sumbangan orang miskin, malah dijual?
Saya suka pakai ikat pinggang, tapi tidak mau serat-serat karena nanti tak bisa makan banyak, tetapi saya sangat setuju dengan gerakan ikat pinggang biar lebih langsing.
Dalam panel diskusi saat pelantikan anggota BOD Lions Club Jakarta Mitra Sejati, saya menjadi salah satu pembicara. Didahului pidato acceptance dari Presiden Club Baru Lion Pandu Dewantara. Bangsa Indonesia memiliki beberapa kekuatan atau kelebihan, yang sebenarnya kekuatan ini bisa dipakai membangun bangsa dan negara antara lain :

1) Sifat menerima (Nrimo dalam bahasa Jawa) membuat kepasrahan menerima segala kejadian, musibah, kesulitan sampai keberhasilan.
2) Tidak suka campur urusan orang lain, tapi toleransi tinggi dan mau saling berbagi, kalau ada pesta bisa tutup jalan untuk saling membantu.
3) Kehidupan yang nilai spiritualnya tinggi, keagamaan, kejujuran dan kepercayaan serta hidup saling menghormati.
4) Nilai kebudayaan tinggi dan mempertahankan tradisi keluarga, kebiasaan turun temurun, ikatan perkawinan, dan aturan-aturan suku yang semua baik adanya.

Tetapi ada kelemahan bangsa kita yang juga menyulitkan kehidupan sendiri yaitu :
1) Boros, yaitu suka membelanjakan uang melebihi penghasilan dan berani menggunakan uang pinjaman. Kita bisa lihat begitu banyak Mal dan Entertainment. Para pengusaha melihat kebiasaan buruk kita dan memanfaatkannya, sehingga kartu kredit merajalela dan KTA. Bayangkan bisa kredit motor tanpa uang muka atau dengan 500,000 rupiah saja. Sifat konsumtif ini banyak merusak mental spiritual kita, yang mengakibatkan banyak kredit macet, korupsi dan pencurian atau kejahatan lainnya.
2) Kurang bisa menepati janji dan kurang memiliki rasa malu. Kalau di Jepang bisa harakiri karena malu. Di Korea tradisi malu diangkat menjadi hukuman keluarga sampai mati. Kalau di Amerika kita tidak mampu pasti mengundurkan diri! Di sini? Walahualam! Ini sangat menghambat bangkitnya bangsa dan negara kita untuk lepas dari lilitan krisis ekonomi.

Saya berpendapat bahwa kita perlu belajar soal ikat pinggang. Ia memiliki nilai liturgis tinggi sekali, misalnya campur tangan gereja agar semua umat mulai dari yang paling awal, untuk menghemat, menabung, dan tidak membelanjakan uang melebihi penghasilan, bisa ikut falsafah Cina yang sangat terkenal : Nien Nien You Yi (Tiap-tiap tahun pasti ada sisa). Itu disimbolkan dengan ikan. Peran kita semua dalam mendidik anak-anak kita adalah kita mengarahkan mereka kepada gerakan hemat. Mari menghemat sebagai awal kita beribadah, (jangan hemat kolekte yaa) karena ikut membangun bangsa dan negara yang kuat. Tuhan memberkati semua sahabat supaya mulai menghemat. Salam dan doa.

8 responses to this post.

  1. 1701293351_Andre Jonathan : seperti yang diceritakan dalam artikel ini, ikat pinggang mengencangkan celana agar tidak mudah melorot. Jepang melakukan gerakan ikat pinggang ini untuk menghemat pengeluaran yang sudah habis terpakai karena perjuangan perang. seletah 30 tahun berlalu, Jepang menjadi negara terkaya karena dulu telah mengimplementasikan sistem hemat dalam negerinya. jika dibandingkan di Indonesia, orang-orang miskin saja susah untuk mengatur uangnya. ketika mereka memperoleh uang banyak saja langsung menghabiskannya untuk membelikan perlengkapan ini itu yang sebenarnya tidak terlalu penting. mereka kurang bisa mengatur pengeluaran keuangan yang sebaiknya mereka tabung untuk suatu hal yang berguna.

    Reply

  2. Posted by Aghel Prabandono on January 16, 2014 at 7:14 am

    Menurut saya, gerakan ikat pinggang ini bisa direfleksikan pada kegiatan sehari-hari. Kalau di kehidupan sehari-hari bisa saja kita sebut membatasi diri supaya tidak berlebihan. Di agama Islam, kita tahu bahwa nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk makan secukupnya, tidak kurang dan tidak berlebihan. Kenapa begitu ? kalau kurang pastinya makanan tersebut tidak mencukupi energi kita untuk melakukan kegiatan sehari-hari, kalau lebih maka hal itu bisa menciptakan kemalasan. Suatu artikel yang penuh refleksi diri bagi saya.

    Reply

  3. Posted by Zunvindri on January 16, 2014 at 11:04 am

    Pada zaman sekarang ini, banyak generasi muda yang tidak dapat mengatur keuangan mereka sendiri yang akhirnya menyebabkan mereka terus menghabiskan apa yang mereka punya untuk bersenang-senang atau membeli sesuatu yang mereka suka tanpa memikirkan apa yang benar-benar menjadi kebutuhan mereka.

    Reply

  4. “Hemat pangkal kaya” mungkin itulah pepatah yang tepat atas perumpaan sebuah sabuk , oleh karena itulah kita di indonesia jangan terlalu bersikap konsumtif akan berbagai kemajuan teknologi , tetapi bersikap hematlah walau kita orang mampu karena sesungguhnya suatu yang berlebihan itu tidak baik.

    Reply

  5. Posted by Dian Yuni W - 04PAW on March 24, 2014 at 3:07 pm

    Indonesia seharusnya juga menggunakan istilah “ikat pinggang”. Korupsi besar-besaan terjadi di Indonesia sehingga banyak penduduk Indonesia yang jatuh miskin. Saya sudah tidak mengerti lagi dengan politik di Indonesia. Jika ada yang bilang “Indonesia sudah merdeka” menurut saya itu hanya istilah saja. Kenyataannya bangsa kita masih ‘dijajah’ oleh negara asing. Kekayaan alam di Indonesia dimanfaatkan oleh bangsa lain. Semoga pemimpin di Indonesia kelak adalah orang-orang yang berpikiran luas dan memiliki pola pikir yang baik. (Dian Yuni W. – 04PAW)

    Reply

  6. Posted by Yovi Maria Kristanty on March 26, 2014 at 8:42 am

    “Ikat pinggang” = Hemat
    Mungkin bisa dikatakan sebenarnya indonesia masih jauh dari kata ikat pinggang (hanya segelintir orang) yang bersedia mengencangkan ikat pinggang untuk kebutuhan sesama, memang aneh negara dengan sejuta keberlimpahan tapi tak saling peduli, saya jujur sangat suka dengan tradisi puasa umat muslim dan puasa umat katolik jenis yang berbeda tapi intinya sama yakni menahan dan menghemat (ikat pinggang) untuk hasrat dan nafsu yang selalu dilakukan dengan lama 30 hari itu sangat luar biasa, karena dengan berpuasa kita sudah dapat merasakan betapa orang lain tidak dapat seperti kita yang selalu bisa makan enak dan nyaman hidupnya. SO BELAJAR BERHEMAT DAN AYO SAMA” IKAT PINGGANG^^

    Reply

  7. Posted by Artarelia_ 1601283204 on March 26, 2014 at 10:53 am

    Dijaman sekarang ini gerakan mengencangkan ikat pinggang ( hemat) sangat dibutuhkan bagi generasi muda sekarang apalagi untuk anak-anak yang berada jauh dari orang tua untuk menuntut ilmu. Sekarang ini sangat banyak kebutuhan yang sebenarnya tidak telalu penting namun bergengsi di kalangan anak muda. Yang paling umum adalah gadget, ketika gadget baru mulai release kalangan anak muda berlomba-lomba untuk mendapatkan gadget itu sebagai ajang gengsi, padahal belum tentu akan terpakai maksimal. Karena itu kita harus mampu memprioritaskan kebutuhan kita dan kita harus mampu mengontrol keinginan kita agar kita dapat hemat.
    04PIM

    Reply

  8. Posted by dwi wahyu jatmiko on March 26, 2014 at 1:33 pm

    ikat pinggang yang di maksud di atas adalah kisah kehidupan yang kita jalani, semakin kita mengeluarkan uang banyak semakin susah lah kita untuk mengembalikan na karna akan menjadi tanggung jawab besar maka semakin berat untuk mengembalikan dan akan menjadi beban dan tekanan, begitu pun ikat pinggang bila terlalu sempit maka pinggang akan merasa tertekan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: