Maaf

Sejak kecil orang tua saya selalu suruh saya minta maaf kepada siapa saja, walaupun kadang saya merasa tidak bersalah.

maafMembaca Kompas pagi ini, ada tulisan the Power of Sorry, ada tulisan sahabat saya yang ditulis Dr. Tyler Okimoto dari Brisbane, Queensland Australia (beliau baca juga email ini – Hallo Moto San). Beliau bertemu saya dua kali, sekali di Jakarta dan sekali di Singapura. Saya diperkenalkan oleh Branch Manager di Singapura ketika ada sebuah seminar tentang kepribadian di Singapura.
Mengapa orang sering enggan meminta maaf? Menurutnya alasan utama adalah orang enggan minta maaf karena dia merasa dirinya memiliki power yang lebih besar dari orang lain. Beberapa psikolog sepakat dengan pendapat ini. Karena orang menjaga Self Esteemnya melalui keengganan meminta maaf.
Papa dan Mama saya mendidik kami anak2 dengan keras, sapu lidi sudah menjadi bagian keseharian karena kami semua anak laki-laki rata rata nakal semua, dan ungkapan maaf agak sedikit dipaksakan agar kami mengucapkannya.
Menurut saya memang pendidikan dalam keluarga, suasana kantor dan kehidupan sehari-hari tidak ada hubungan langsung dengan kebiasaan minta maaf atau sorry. Padahal kata ini begitu mudah diucapkan.
Kebiasaan saya di kantor kalau pagi datang selalu dengan ucapaan atau sapaan Good Morning, kalau siang Good Afternoon rata-rata semua staf, direksi, dan karyawan membalas dengan ucapan yang sama, tapi kalau saya datang terlambat dan saya ucapkan : “Maaf saya terlambat”, maka mereka semua terlihat suasana aneh. Pasalnya di kantor kami saya terlambat tidak ada sanksi, tetapi karyawan terlambat ada sanksi. Sesungguhnya terbalik sekali pandangan ini karena kalau saya terlambat sanksi moral terhadap saya lebih besar, rasa malu dan perasaan bersalah jauh lebih berat dari sanksi peringatan saja.
Pemahaman ini merupakan langkah bagi saya untuk mau meminta maaf jika terlambat hadir. Kalau ada kata-kata yang menyinggung perasaan sahabat maka saya minta maaf. Menurut saya ini memang bagian dari usaha-usaha memperbaiki terus hubungan antara kita dan sesama, sahabat, kolega sampai kepada urusan rumah tangga, bahkan menjadi suatu intensi tanpa perlu mencari siapa salah siapa benar untuk memulai kata meminta maaf.
Pada akhirnya kita akan merasakan bahwa hubungan baik itu merupakan kunci seseorang untuk maju menjadi orang besar. Saya masih ingat bapak Gubernur Jokowi meminta maaf terbuka kepada masyarakat Jakarta karena kesalahan dan kelalaian aparat di bawahnya, sungguh suatu pertunjukan iman yang sangat indah.
Kata maaf akan menjadi alat reparasi hubungan baik antar sesama, keluarga, kakak adik, suami istri dan teman apalagi diikuti dengan langkah langkah serius memperbaiki hubungan. Namun jika kata maaf ini diucapkan dengan kerendahan hati alangkah sulitnya. Ini karena kita ditutupi oleh keangkuhan, kesombongan dan ego yang tinggi.
Beberapa sahabat saya memberikan pertanyaan pada saat saya mengungkapkan maaf karena tidak bisa menghadiri suatu acara makan malam, tetapi karena satu dan lain hal, saya hadir juga dan mereka sungguh heran kenapa harus minta maaf kalau toh akhirnya hadir. Saya sampaikan bahwa berita saya diawal sudah membuat rasa kecewa kepada teman-teman itu sudah lebih dari cukup alasan saya minta maaf. Apalagi dalam hati yang dalam saya menyesal mengatakan di awal saya tidak bisa hadir, karena hal itu mempengaruhi beberapa orang teman tidak hadir karena saya tidak hadir. Saat sekarang saya hadir, maka teman-teman yang terpengaruh oleh saya tidak bisa ikut hadir. Inilah penyesalan saya sehingga saya harus minta maaf kepada kawan-kawan. Seorang sahabat wanita yang hadir saat itu meneteskan air mata mendengar penjelasan saya.
Saya mengajak semua sahabat, mari kita belajar mengeluarkan kata “maaf” selalu pada saat kita bertemu sahabat dan jika ada hal-hal yang mengganjal kita dan membuat hubungan agak renggang atau membatasi hubungan kita bahkan ada kecenderungan memutuskan hubungan baik kita. Kalau tidak mampu dengan kata-kata verbal, bisa melalui SMS atau BBM bahkan surat atau Surel (email), sehingga jalinan persahabatan tetap kita jalin, karena kita manusia biasa tidak terlepas dari segala kesalahan dan kekilafan.
Maaf kalau tulisan saya mengganggu sahabat, teman, keluarga dan juga istri tercinta saya yang sering menjadi inspirator tulisan saya. Tuhan memberkati melindungi dan menghibur semua handai taulan dengan cinta Kasih-Nya. Salam dan doa.
Doa buat Romo Budi Santoso MSC supaya lekas sembuh dan bergabung kembali dengan kita semua.

52 responses to this post.

  1. Posted by hansen on March 27, 2014 at 9:57 am

    Kata “maaf”, mudah diucapkan tetapi susah dipraktekkan. Terkadang apa yang dimulut, beda dengan yang di hati. Perlu suatu ketulusan untuk meminta maaf dan memaafkan yang meminta maaf.

    Reply

  2. Posted by Rendy on March 27, 2014 at 3:55 pm

    kata maaf memang tidak gampang kita keluarkan tetapi kita harus berpikir positif dengan kata maaf sendiri, seperti halnya kita memudah berkata maaf mereka yang berintraksi dengan kita bisa melihat betapa sabarnya kita dan betapa rendah hatinya kita.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: