Single Parent

Buat seorang ibu, atau seorang ayah, yang harus merawat anak-anak dan mengurus rumah tangga sendiri atau kita sebut Single Parent (bahasa Indonesia saya tidak tahu). Setiap insan yang menjadi Single parent, baik diakibatkan cerai, meninggal, atau tugas jauh, tentu mengalami masalah ini. Bagi Single Parents masalah terberat adalah : membesarkan anak dengan kondisional, tidak trauma atau bahkan menjadi anak yang penuh dendam. Masalah lain seperti ekonomi, keuangan, kesendirian, kesepian, dan mengurus rumah hampir bisa diatasi. Apa lagi kalau sanak keluarga orang mampu, maka tidak ada masalah yaang jadi kendala.
Kehidupan Single Parent, mengalami banyak tekanan, baik nilai sosial, kedudukan, sampai kepada status. Saya pernah mengikuti mahasiswa psikolgi UI untuk mengadakan research tentang kehidupan Single Parent. Hasilnya memang secara sadar atau tidak sadar penuh dengan fenomena dan trauma, walau penampilan di luar kelihatan normal saja.
Mimi, seorang sahabat saya di SMA, menikah dengan teman sesama SMA. Merela memiliki 3 anak laki-laki. Dalam perkawinan yang berjalan baik dan bahagia, di hari-hari akhir harus mengalami masalah. Kini, sudah lebih 6 tahun Mimi harus hidup sebagai ibu sekaligus ayah. Ia mendidik dan merawat anak-anak yang menginjak dewasa semua.
Buat Mimi, untuk dirinya sendiri tidak jadi masalah ditinggal, tapi anak-anak sangat mengalami masalah. Walau dua anaknya sekarang sudah di Singapura, seorang lagi di Jakarta juga sudah masuk kuliah, tapi Mimi bisa melihat bahwa kehidupan anak-akak ada masalah cenderung trauma berat.
Saya menambahkan dalam sharing dengan Mimi bahwasannya hidup kita harus memiliki empat fase :

1. Fase Memiliki
2. Fase Menjalani
3. Fase Menikmati
4. Fase membebani

Sungguh sebuah berkat besar bagi para Single Parent karena bisa mengatasi fase-fase kehidupan itu. Bagi keluarga-keluarga yang mengalami masalah tentu sangat berat untuk melewati fase ini apalagi ada trauma yang membebani. Kita semua berdoa, karena kekuatan keluarga adalah berada dalam keikutsertaan dan komunikasi. Dengan mempertahankan keutuhan keluarga kita semua sudah berpartisipasi membangun dunia yang penuh dengan suka cita
Mari kita berdoa kepada semua para Single Parent supaya kuat, tabah dan sanggup melewati fase kehidupan dalam kesendirian.

2 responses to this post.

  1. Posted by Melisa / 02PNM / 1601232166 on June 15, 2013 at 9:06 am

    Menurut saya, single parent terutama ibu adalah gambaran seorang perempuan tangguh. Jika ujian yang berat ini datang, sejatinya mereka adalah wanita-wanita hebat, karena sudah pasti ujian ini hanya didatangkan kepada wanita-wanita hebat yang mampu melewatinya dengan penuh kesabaran. Segala hal berkenaan rumah tangga ditanggung sendiri. Mulai dari membereskan rumah, mencari nafkah keluarga, dilakoni sendiri. Sekalipun harus sendiri dan mandiri dalam mengarungi samudera kehidupan ini, jangan pernah bersedih dengan kesendirian, jangan pernah meratapi keadaan.

    Reply

  2. Posted by Raymond Bintang on June 17, 2013 at 3:01 pm

    single parent bukan hal yang mudah

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: