R e t r e t

Rm-Kris-1“Di mana saja, siapa saja dan kapan saja ada baiknya kita mendahulukan kebahagiaan orang lain, karena sesungguhnya kita sudah berbahagia mendahului”

Waktu menunjukan jam sepuluh malam. Bagi orang lain mungkin belum terlalu malam, tapi bagi warga Jakarta serasa terlelap dan ingin agar malam cepat berlalu karena cuaca hujan deras dan banjir di mana-mana. Saya sendiri menikmati berita televise tentang banjir yang melanda warga Jakarta. Hatiku sedih sekali dan serasa teriris-iris karena begitu banyak sahabat, teman, keluarga sesama yang lain sedang menderita akibat banjir. Penderitaan bertambah dengan matinya listrik PLN. Apalagi distribusi logistik bantuan untuk warga sangat lamban.
Ada sebuah keluarga melalui sms bahwa sebuah keluarga yang terdiri dari suami-istri dan anak-anaknya yang masih balita di daerah Pisangan Muara harus duduk di atas atap rumah. Pasalnya kasur dan perabot mereka sudah terapung. Bahkan sejak pagi mereka belum makan. Kisah yang sama disampaikan anak saya yang di atas mobil 14 jam tidak bisa pulang sejak pagi sampai malam. Hal serupa juga dialami oleh cucu saya pulang sekolah dari Pluit sampai rumah 12 jam. Hati saya bertanya mengapa semua harus terjadi dan apakah semua penyebabnya adalah kita sendiri?
Dalam sebuah seminar lingkungan hidup di sebuah hotel di Jakarta yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup era Megawati, saya hadir dan duduk di samping Bapak Menteri Lingkungan Hidup Sonny Keraf.
Dalam sebuah kesempatan panelis bertanya kepada saya apakah boleh mendengar pendapat saya tentang lingkungan hidup? Lalu, saya katakana : “Kalau berbicara Cinta kita berbicara saat sekarang karena kemungkinan besar di kemudian hari Cinta itu sudah tidak ada lagi. Kalau kita berbicara bisnis maka kita bicarakan investasi untuk masa yang akan dating, tetapi kalau kita berbicara tentang lingkungan hidup maka kita akan bicara masa lalu,” ungkap saya.
Banyak hadirin bertepuk tangan. Salah satu pembicara bertanya kepada saya bukankah semua kegiatan lingkungan hidup ini untuk masa depan? Saya jelaskan kepada beliau bahwa secara tidak sadar beliau mengatakan bahwa itu semua adalah sebab akibat dari masa lampau atau hanya mengembalikan semua kondisi seperti sebelumnya. Beliau menyambutnya dengan tepuk tangan tanda setuju dan semua hadirin juga bertepuk tangan dan Pak Keraf pada waktu itu memberikan salam buat saya.
Hari ini seluruh Kota Jakarta bersedih hati karena begitu besar penderitaan dan kerugian baik moril maupun materi. Saya coba meresapi kata-kata saya sendiri bahwa banjir ini adalah penyebab masa lalu. Kelakuan tindakan apa saja yang kita lakukan sampai menyebabkan banjir ini? Semuanya saling berkaitan mulai dari membuang sampah seenaknya, membangun rumah dan jalan tanpa memikirkan daerah resapan, merusak lingkungan dengan sampah. Persoalannya apakah kita mau memperbaikinya? Saya rasa tidak karena jika kita memandang masa depan maka lingkungan kita tidak menunjukan tanda-tanda lebih baik, tetapi hari ke hari akan semakin buruk sampai suatu saat kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan bumi tercinta ini.
Jadi hampir semua kegiatan kita tidak menyebabkan perbaikan tetapi cenderung merusak mulai pembabatan hutan dan perusakan ekosistem. Ada juga pendapat salah mengatakan bahwa untuk membangun kita justru harus merusak lingkungan.
Kita boleh lihat diri kita. Saya sebut ini “retret “. Sejak mulai menghidupkan mobil kita sudah mulai merusak sistem ozon dengan asap knalpot. Kita yang mengakibatkan efek rumah kaca. Pembangunan jalan menyebabkan kerusakan surface bore atau resapan air. Kala kita sampai di tempat kerja lingkungan sangat kotor. Tiada lagi bunga-bunga dan dedaunan indah. Tiada lagi kicau burung kenari. Di rumah, kita istirahat bersama air condition atau AC perusak lingkungan nomor satu. Semua yang akan kita lihat ke depan adalah suatu kehancuran sistem dan bumi kita akan dipercepat kehancurannya.
Mari kita mundur sebentar. Saya ajak anda semua menutup mata sejenak. Kita bayangkan kita berada seratus tahun lalu di Jakarta. Anda akan duduk di tepi sawah. Kalau jalan ke kedai naik sepeda bagi orang kaya atau kuda, sedangkan bagi orang miskin jalan kaki. Saat bangun pagi, kita minum teh ditemani burung-burung berkicau. Saat hujan turun deras kita berteduh di bawah daun pisang sembari kita melihat anak-anak mandi hujan. Sungguh sebuah pemandangan indah. Kini, kita buka mata dan lihatlah sekeliling apakah kita mau kembali ke belakang atau mau menuju ke depan. Coba sekarang kita tutup mata dan membayangkan seratus tahun kedepan! NGERI SEKALI! Silahkan bayangkan dan tulis sendiri. Sebelum semuanya terjadi, mari kita membahagiakan orang- orang terdekat kita. “Dimana saja, siapa saja dan kapan saja ada baiknya kita mendahulukan kebahagiaan orang lain, karena sesungguhnya kita sudah berbahagia mendahului”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: