Pembenaran

Dasar kebenaran dimulai dari angka, di luar itu dianggap pembenaran (Issac Newton)

170312Terbang sore hari memang kurang nyaman, karena di saat mengantuk ingin tidur tetapi sadar kalau kebanyakan tidur malam harinya pasti susah tidur. Tetapi sore hari ini, saya dari Singapura ke Jakarta melintas kepulauan nusantara dengan cuaca sangat cerah.
Ada sebuah kisah seorang pemuda. Dia melihat demonstrasi jualan microscope electronic dengan teknologi Cina atau Tiongkok. Dia tertarik membeli dengan harga cukup mahal karena hasil demo tadi bisa melihat keindahan bunga dan berlian yang cantik sekali. Saat pulang ke rumah dia memamerkan kepada sahabat dan keluarga tentang kecanggihan alat microscope electronic ini. Suatu hari saat akan makan nasi dan sambel di rumah, pemuda tadi iseng untuk mengambil sedikit sambel dan dilihat di bawah microscope. Apa yang terjadi? Dia bukan melihat keindahan yang terjadi melainkan cacing-cacing yang bergerak. Sang pemuda kaget terkesima dan ia tidak berani makan. Setiap kali mau makan dia selalu melihat makanannya penuh cacing dan uget-uget. Beberapa minggu kemudian ia akhirnya tidak tahan. Ia membanting microscope itu lalu dibuang ke tempat sampah karena dia menderita tidak bisa makan.

Kebenaran, diluar matematika menjadi kendala saat kita harus membenarkannya. Issac Newton menulisnya “Dasar kebenaran dimulai dari angka, diluar itu dianggap pembenaran”. Dan kita sering lupa, bahwa sering kita mencari kebenaran, tetapi saat kita menemukan kita menjadi jijik, ngeri, marah, benci dan kecewa. Bagaimana bisa menerima kenyataan? Di sini kita mencoba dengan membuat sebuah pembenaran.
Dalam kehidupan nyata, kita sering anggap enteng perihal pembenaran ini. Apalagi dalam sebuah usaha. Perusahaan selalu mengalami kesulitan. Kebenaran yang ada membuat kita kadang putus asa, stress, dan bisa hilang kendali. KIta mencari pekerjaan ke sana ke mari tidak ada lowongan kerja, karena banyak perusahaan yang rugi terus menerus. Di sisi lain perusahaan mencari keuntungan, tetapi para karyawan santai dan tidak berdedikasi atau berjuang untuk menyelamatkan perusahaan. Para karyawan kehilangan rasa memiliki atau (sense of belonging), bahkan mereka lebih banyak menuntut hak daripada kewajibannya Berbagai persoalan kenyataan ini adalah kebenaran adanya. Apakah yang harus kita lakukan dengan sebuah pembenaran?
Melalui sebuah buku dari penulis novel yang saya lupa pengarangnya dengan judul ” Story Love Till Death Do Us Part “. Kalau tidak salah novel ini ditulis oleh Damien dengan peran Utomo dan Liana yang hidup sejak perang terjadi di tahun 45. Cinta yang mengikat mereka bisa bertahan di dalam kesulitan ekonomi dan suasana perang di Surabaya (Novel indah ini boleh dibaca indah sekali).
Saya boleh menyebutkan bahwa kenyataan dalam kebenaran hidup bisa menjadi pembenaran kalau diisi oleh cinta. Cintalah yang menjadi dasar sebuah kesetiaan. Hubungan antara pembenaran dan kebenaran akan menjadi baik saat bahasa cinta menjadikan kesetiaan dalam kehidupan.
Ada lagi kisah lain. Seorang ibu memiliki seorang suami dengan berbagai perilaku buruk seperti pemabok, pemalas, dan suka “jajan”. Suatu senja suaminya pulang ke rumah, tetapi karena mabok dia ke jebur sumur. Sang istri melihatnya segera lari dan ikut jeburkan diri ke sumur yang cukup dalam. Semua tetangga yang menolong mereka terheran-heran. Di luar itu banyak keluarga memaksa sang istri agar lebih baik cerai daripada ia memiliki suami demikian, tapi apa yang menjadi jawaban sang istri?”Biarlah apapun terjadi dengan saya karena dia adalah suami saya, baik-buruk perilakunya dia tetap suami saya, karena Tuhan telah memberikan dia kepada saya maka saya harus melayaninya.” ”
Semua orang melihat pembenaran ibu ini melalui cintanya. Kesetiaan yang murni bisa membuat air mata kita jatuh kalau meresapinya. Apakah kita bisa? Melihat kenyataan ini, jika terjadi pada diri kita, mungkin bukan pembenaran, tetapi yang ada adalah penyalahan, saling menyalahkan (blaming) satu sama lain.
Perjalanan saya sore ini juga diiringi banyak kekecewaan, kesedihan, kekurangan, dan kekuatiran, tetapi saya mencoba melakukan pembenaran dan menghindarkan diri dari penyalahan kepada pihak lain. Saya juga tidak menyalahkan diri sendiri. Saya berpikir bahwa kalau kita membaca tanda-tanda jaman, maka itu merupakan bagian dari cinta, sehingga kita semakin dekat dengan Tuhan.
Berdoa dan bekerja (ora et labora) membuat semua bisa berubah. Kita percaya bahwa DIA menyertai kita sampai akhir jaman. Tuhan memberkati kita semu. Kebenaran akan membuat kita takut, tetapi karena kasih-Nya membuat kita setia dan karena cinta-Nya mebuat kita tabah dan kuat bertahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: