Lampu (3)

Firman-MU pelita bagi kakiku, Terang bagi jalanku.

indexPagi-pagi buta saya menuju airport Soekarno Hatta, kiri kanan masih gelap gulita, cuma diterangi beberapa lampu kecil. Rupanya lampu jalan sedang tidak beroperasi, tetapi karena begitu banyak mobil, suasana cukup terang juga. Kelihatannya Kota Jakarta seperti tidak ada matinya, jumlah kendaraan semua berlalu lalang hampir tidak kenal waktu.
Teringat sebuah kisah tentang Jendral Qing Fang, yang nantinya menjadi raja sebuah dinasti. Kisah ini diceritakan oleh mama saya semasa kami masih kecil, namun selalu teringat di hati kami semua. Qing kecil dilahirkan sangat miskin dan tidak punya apa-apa. Yang menjadi sengsaranya bahwa “lampu” saja tidak punya sehingga jika malam tiba seluruh rumahnya penuh kegelapan.
Qing sangat rajin dan dia tidak pernah lelah atau mau berhenti belajar. Jika malam tiba dia menuju rumah orang kaya tetangganya dan melalui celah-celah lubang dinding dia bisa memperoleh cahaya untuk bisa membaca dan menulis. Setiap hari dilakukannya hal itu. Yang sungguh menyedihkan adalah tibanya musim dingin. Kebekuan yang terjadi luar biasa. Apa lagi salju sudah menutupi bumi sedang dia hanya memiliki baju di badan saja.
Kehidupan Qing kecil tidak pernah berubah karena kemiskinan melanda negerinya sampai suatu saat di musim dingin karena sangat dinginnya Qing tidak tahan, tetapi semangatnya untuk belajar memaksanya terus untuk belajar. Cuma hari itu perutnya kosong karena kelaparan melanda negerinya. Qing tidak tahan dan pingsan, tetapi nasib mujur segerombolan pasukan tentara lewat dan melihatnya dan akhirnya membawa Qing ikut serta mereka dan mereka merawat Qing.
Qing tumbuh di antara para serdadu barbar dari hari ke hari sampai dewasa dan dia diterima menjadi tentara. Karena sangat pintar akhirnya Qing bisa menjabat sebagai jendral. Dia pulang ke kampung mengajak keluarganya ke kota, tetapi sempat mampir ke rumah orang kaya tetangganya. Ia memberi hormat dan terima kasih karena cahaya lampunya telah menolong dia menjadi orang besar. Kelak Qing Fan menjadi raja dan dia tetap belajar. Dia menjadi pelopor pembuatan lampu bagi rakyat kecil supaya bisa berlajar di malam hari. Di sini pesta lampion dimulai.
Lampu tidak bisa dipisahkan dengan kecerdasan, kemauan dan juga semangat atau spirit. Jadi, bukan saja masalah terang. Demikian sebuah lampu dinyalakan tidak disembunyikan di bawah tempat tidur, melainkan harus ditaruh di atas kaki dian, agar bisa menerangi semua ruangan. Lampu tidak dinyalakan lalu ditaruh di dalam gentong (kisah tentang lampu dinyalakan dalam gentong dikisahkan turun temurun bangsa yahudi saat menyerang kota Sujk, karena di malam hari lampu-lampu ditaruh dalam gentong. Ketika malam hari pasukan menyerang pertama-tama dengan memanah gentong-gentong tersebut dan terjadi terang benderang sehingga mudah buat memanah musuh. Artinya terang itu juga punya arti terselubung).
Dalam kehidupan, kita bukan saja butuh cahaya terang, tetapi kita sendiri harus menjadi terang. Artinya kita harus memiliki kemauan, kecerdasan dan semangat atau spirit. Tanpa itu semua kita ibarat lampu tanpa minyak, atau bolham putus, mungkin akan dibuang orang karena tidak bisa dipakai.
Semoga kita semua bisa memiliki semangat kerja, kecerdasan dan kemauan keras untuk bekerja dan berkarya bagi pembangunan dunia. Salam dan doa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: