Retret

Untuk mencari jiwa, retret jalan terbaik (Thomas Jeff.)

Pulang dari kantor aku mampir di Happy Day Restaurant. Rencananya mau jumpa beberapa kawan dari KWI untuk diskusi kecil. Aku datang kepagian karena salah jadwal mestinya jam 19.00 aku pikir jam 17.00, tapi nasiblah duduk ngopi dulu sambil baca Koran. Suasana restoran sepi sekali mungkin cuma saya dan ada dua orang ibu di seberang meja. Musik ringan dari Freddy Fender dan Nana Mouskoury menghantar saya melamun ke tahun 70-an. Mata saya membaca sebuah tulisan di koran yang sudah dari minggu lalu. Dalam hati jengkel juga, ini pemilik restoran tidak tahu diri bukannya kasih koran baru, tetapi karena artikelnya bagus saya baca juga, mana koran gak jelas apa ini, namun isinya bagus sekali.
Dia mengutip beberapa tokoh terkenal di dunia, di mana setiap ada permasalahan atau sesuatu yang perlu direncanakan, mereka mengikutsertakan jiwanya. Dengan menjiwai sebuah pekerjaan artinya memberikan jiwanya untuk turut mengambil bagian dalan kehidupan duniawi. Dan untuk mencari jiwa diperlukan retret.
Saya pikir retret itu hanya koreksi diri, mundur selangkah untuk maju sepuluh langkah atau ingin menenangkan diri supaya bisa berpikir secara jernih. Tetapi tulisan ini agak berbeda dan saya jadi berpikir apa maksud dan tujuannya. Kan kita semua sudah punya jiwa. Untuk apa capek-capek cari lagi dan anehnya malah di suruh kerja. Apa diri kita ada dua pribadi yang berbeda, sehingga salah satu harus mengalah!
Kalau yang dimaksud tidak mementingkan diri sendiri, lebih mendahulukan orang lain, tidak egois saya rasa ini nasihat klasik. Tetapi memberikan kesempatan Jjiwa bekerja ini yang baru aku dengar.
Keesokan harinya dalam kesempatan relax istirahat siang saya coba buka Youtube Taichi Chuan (boleh coba). Saya coba bandingkan artikel di atas dengan film dan tulisan tentang Taichi. Bagi penggemar Tio Sam Hong mungkin tidak asing.
Taichi, berbeda dengan ilmu bela diri, tetapi ilmu menyatukan jiwa dan raga. Jika jiwa dan raga bisa bekerja sama dengan baik, maka kita bisa menguasai dunia.
Retret untuk menemukan jiwa dan memberikan kesempatan jiwa mengambil kesempatan untuk terlibat bekerja. Lalu, dengan sendirinya jiwa dan raga berdamai maka roh kita akan bersuka cita. Sesungguhnya suka cita bisa besar jikalau di dalam dunia ini hidup harmonis dan selaras. Kadang kita merasa mau berbuat baik tapi badan kita tidak mau akhirnya yang terjadi adalah stress, sehingga jiwa meninggalkan kita, saat itu kita akan berketergantungan dalam kehidupan duniawi.
Kebiasaan retret menjadi solusi yang terbaik untuk menyegarkan raga.
Retret tidak usah harus ke Puncak atau ke Bandung, tapi cukup di tempat di mana bisa memungkinkan pertemuan jiwa dan raga. Semoga hidup ini jadi indah.

51 responses to this post.

  1. Posted by dwiandra annas putra on May 26, 2013 at 4:11 pm

    menurut saya artikel ini sangat bagus karena membahas tentang retret yang penulis nya mengatakan kalau retret itu tidak perlu jauh-jauh misalnya ke puncak atau ke bandung tapi bisa dilakukan saat jiwa dan raga bisa di pertemukan.selain itu retret dapat menghilangkan kejenuhan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: