Belajar Samai Cina

Tahun 1985 saya pertama kali menginjakkan kaki di Beijing, ibu kota Cina, tanpa Pasport, hanya menggunakan kertas lusuh, yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Airportnya jorok, ribut, dan mencekam karena kiri kanan penuh tentara. Suasananya menciutkan nyali. 1992 saya mendarat lagi di Beijing, dan suasananya sudah berubah total. Memang bersih sekali tapi tetap ribut, krodit, tentara banyak dan masih mencekam. Selam 12 tahun, setiap tahunnya saya 2 atau 3 kali mendarat di Beijing dan transit ke Pyong Yang, Korea Utara. Ada tugas yang harus dikerjakan bersama DPR Korea. Tahun 2009, saya terakhir datang di Bei Jing (ibu kota utara), wah suasananya indah, cantik, adem dan at home. Semua senyum dan penuh persahabatan. Lalu, 2010 saya dan keluarga sempat mampir di Shang Hai menikmati SH Bun di malam hari dan Xiao Lung Pao Nan Xiang di Ie Yen. Kendatipun saya mengunjungi kota-kota di Cina, saya belum bisa menikmati kereta api tercepat di dunia. Indahnya Shen Zhen, Kwang Chow, Xia Men, Beijing, Shan Tow, Da Lian, Kui Lin sampai Dang Dong mendatangkan kekaguman luar biasa pada keberanian para pemimpin Cina untuk melakukan transformasi di negaranya.
Alkisah suatu hari kami turun dari Ba Da Ling (tembok besar). Kami sengaja melewati desa-desa dan menghindari jalan raya. Desa ini ditata bagus sekali. Sampai di suatu tempat yang sepanjang jalan penuh dengan jeruk dan peer, kami mampir menikmati buah-buahan segar itu. Kami sungguh tercengang. Kami dipersilahkan makan dengan gratis. Saat pulang masih dikasih bungkus, tapi kami ambil secukupnya karena sayang-sayang nanti di buang.
Seharusnya mereka bisa dapat uang karena saya mau beli. Tapi apa jawabnya, “Jka Anda senang di negara ini, kami sudah sangat beruntung!” Satu hal yang terkesan, pada saat mau pulang ke Jakarta saya mencabut uang 200 USD untuk tips tapi dengan sangat sopan sang Guide bilang, “Please don’t, my salary is more than enough”! Luar biasa, tetapi karena kurang enak hati aku mengambil kamera pocket lalu kucabut SD card dan kuhadiahkan kepada Guide, sebagai tanda kenang-kenangaan dan diterima dengan senang hati!!
“Jika Anda senang berada di sini, kami sudah sangat beruntung!” Kalimat ini memiliki nilai rohani sangat tinggi. Kesopanan yang luar biasa dan etika persahabatan diberikan kepada orang yang belum di kenal sama sekali. Seandainya kata-kata ini bergema di hati kita saat kita bertemu seseorang, baik sahabat atau orang yang baru kita kenal, niscaya hasilnya luar biasa, apa lagi bisa di terapkan di lingkungan, kantor, atau bahkan gereja atau di mana saja, maka akan terlihat cinta sangat besar sekali. Anehnya ini bertumbuh mengagumkan di negara yang tidak mengenal Tuhan. Sedangkan, di NKRI yang mendeclare mengenal Tuhan, masih terjadi saling ribut, caci maki bahkan saling membenci antar SARA.
Tentu kita kenal himbauan, mari belajar sampai CINA, karena memang kita harus belajar. Dari negara kotor, terpuruk, dan penuh ketakutan menjelma menjadi negara terang-benderang, bebas merdeka, dan penuh kegairahan pembangunan dalam kurun waktu yang sangat singkat.
Yang menarik buat saya adalah membangun keramah-tamahan, sopan santun, budaya senyum, daya tarik dan kebersihan (dulu kalau kita ke Cina, setiap meja di restoran disediakan tempat buang ludah, karena kebiasaan meludah di seluruh negeri ini). Mari kita memetik sedikit pembelajaran dari mereka, akhir pekan depan aku mau menikmati Bei Jing Gao. Pasti ada lagi sesuatu banget yang membuat saya kagum.Jika Anda senang berada di sini, kami sudah sangat beruntung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: