Author Archives: adharta

Unknown's avatar

About adharta

Be positif

Mereka yang Tinggal di Balik Pintu

Cerpen no 0039

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Awal Januari 2026

Di rumah-rumah besar, selalu ada pintu yang jarang dibuka.
Bukan pintu utama dengan lampu kristal dan karpet mahal, melainkan pintu kecil di belakang
menuju dapur, gudang, atau kamar sempit tanpa jendela.

Di sanalah mereka tinggal: para asisten rumah tangga.

Mereka yang setiap hari melihat kehidupan orang lain berjalan rapi, sementara hidupnya sendiri nyaris tak terlihat.

Mengawali tahun baru 2026
Saya bersama sama teman teman menonton sebuah film bagus di Taman Anggrek XXI
Dengan judul film
The Housemaid

Film ini memberikan inspirasi buat Saya menulis kisah pendek Pembantu Rumah Tangga atau ART

Millie adalah salah satunya ART di Jakarta

Ia datang ke rumah Andrew dan Nina dengan harapan sederhana
bekerja dengan jujur, dibayar layak, dan hidup sedikit lebih aman dari masa lalunya yang berantakan.
Ia tidak meminta kemewahan.
Ia hanya ingin dihargai sebagai manusia.

Rumah itu indah. Terlalu indah.
Dinding putih bersih, lukisan mahal, dan aroma kopi yang selalu hangat.

Namun Millie segera belajar satu hal
rumah bisa tampak sempurna dari luar,
tapi retak di dalamnya.

Nina, sang nyonya rumah, adalah perempuan yang rapuh sekaligus menakutkan. Senyumnya bisa berubah menjadi kemarahan dalam hitungan detik. Perintahnya sering tak masuk akal.
Kesalahan kecil dibesar besarkan. Kadang kata-kata tajam dilemparkan seperti pisau.

“ART itu harus tahu posisinya,” kata Nina suatu hari.

Millie tahu kalimat itu. Ia diwariskan dari generasi ke generasi.
Ibunya dulu juga ART.
Neneknya juga ART
Seolah menjadi pembantu adalah takdir yang tak boleh banyak bertanya.

Andrew berbeda.
Ia jarang bicara, tapi sopan.
Ia tahu ada yang salah, namun memilih diam.
Dan diam, Millie pelajari, sering kali adalah bentuk kekuasaan yang paling kejam.

Hari-hari Millie dipenuhi kerja tanpa jam yang jelas.
Bangun paling pagi, tidur paling akhir.

Jika ia sakit, dianggap malas. Jika ia lelah, dianggap tidak bersyukur.
Ia tinggal di kamar kecil di lantai atas
cukup untuk tubuhnya, tapi tidak untuk mimpinya.

Sebagai ART, Millie hidup di wilayah abu-abu bukan keluarga, bukan pula pekerja sepenuhnya.
Ia ada, tapi tidak dihitung.
Sampai suatu malam, pintu kamarnya dikunci dari luar.
Dalam gelap dan sunyi, Millie menangis.
Bukan karena sakit hati semata, melainkan karena sadar: jika ia terus diam, ia akan menghilang.

Seperti ibunya. Seperti ribuan ART lain yang bekerja seumur hidup tanpa perlindungan, tanpa suara, tanpa masa depan.

Di situlah keberanian kecil lahir.
Bukan keberanian untuk melawan dengan amarah, tetapi keberanian untuk mengakui bahwa dirinya berharga.

Millie mulai mencatat. Menyimpan bukti. Mencari bantuan. Ia menemukan komunitas ART
perempuan dan laki-laki yang selama ini dianggap rendah, tapi ternyata memiliki solidaritas tinggi dan pengetahuan tentang hak-hak mereka.

Ia belajar bahwa bekerja di rumah orang lain tidak berarti kehilangan hak sebagai manusia. Ia belajar tentang kontrak kerja, jam istirahat, upah layak, dan pentingnya pendidikan keterampilan.

Ketika akhirnya kebenaran terungkap dan ia meninggalkan rumah itu, Millie tidak pergi dengan kemenangan besar.
Ia pergi dengan luka
namun juga dengan kesadaran baru.
Bahwa nasib ART tidak harus selalu tragis.

Cerita Millie adalah cerita jutaan orang di Indonesia.
Mereka yang menjaga anak-anak kita, membersihkan rumah kita, memasak makanan kita
namun sering tidak mendapat jaminan kesehatan, jam kerja manusiawi, atau rasa aman. Padahal tanpa mereka, banyak rumah tangga kelas menengah dan atas tak akan berjalan.
Meningkatkan standar hidup ART bukanlah soal belas kasihan.
Itu soal keadilan.
Dimulai dari hal-hal sederhana

Kontrak kerja yang jelas dan adil
Jam kerja dan hari libur yang manusiawi
Upah layak dan tepat waktu
Akses pendidikan dan pelatihan keterampilan
Perlindungan hukum dari kekerasan dan eksploitasi
Lebih dari itu, perubahan dimulai dari cara pandang.

Melihat ART bukan sebagai “pembantu”, melainkan pekerja rumah tangga profesional.

Beberapa tahun setelah keluar dari rumah Andrew dan Nina, Millie kini bekerja sebagai pengelola rumah tangga di beberapa rumah. Ia dipercaya, dihargai, dan dilibatkan. Ia menabung. Ia bermimpi. Ia hidup.

Sesekali, ia berbicara di forum kecil. Suaranya tenang, matanya jernih.
“Kami tidak minta diperlakukan istimewa,” katanya.
“Kami hanya ingin diperlakukan setara.”

Di balik pintu-pintu kecil rumah besar, masih banyak Millie lain.
Tapi selama masih ada yang berani membuka pintu itu
dan mengajak kita semua melihat ke dalam
harapan tidak pernah benar-benar padam.
Karena martabat manusia tidak ditentukan oleh di mana ia bekerja,
melainkan oleh bagaimana ia dihargai.

Akhir tahun 2025 menyambut tahun 2026
Kisah inspirasi film
The housemaid
Bisa ditonton bagus narasinya

Tahun 2026
Mungkin kita bisa memberikan perhatian sedikit kepada para ART

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Kota yang Tak Pernah Menunggu

Kota yang Tak Pernah Menunggu

Cerpen no 0040

Oleh : Adharta
Ketua umum
KRIS

Awal Januari 2026

Sebuah perjuangan hidup

Namanya Pandi.
Seorang pemuda dari Kalimantan Barat, lahir dari rumah kayu sederhana yang setiap sore dipeluk suara adzan dan desir angin sungai.

Pandi bukan anak orang berada.
Ayahnya buruh, ibunya perempuan tabah yang selalu menunggu di beranda dengan doa yang tak pernah putus.

Sejak SMA, Pandi tahu satu hal
hidup tidak akan memberinya jalan lurus.

Setelah tamat SMA, dengan ijazah lusuh dan mimpi yang masih polos, Pandi bermigrasi ke Jakarta.
Kota itu baginya seperti janji
berkilau, keras, dan tak pernah peduli siapa yang datang dengan harapan atau luka.

Pandi diterima di sebuah universitas. Jurusan Teknik Sipil
cita-cita yang ia simpan sejak kecil, membayangkan suatu hari bisa membangun jembatan agar orang-orang tak perlu lagi menyeberang sungai dengan perahu rapuh seperti di kampungnya.

Pagi kuliah, malam kerja.
Begitulah hidupnya bertahun-tahun.
Siang ia duduk di bangku kelas, mencatat rumus, menggambar struktur.
Malam ia berubah menjadi apa saja yang bisa menghasilkan uang:
pernah narik taksi,
jual beli motor,
jadi makelar rumah,
hingga jualan makanan online dengan ponsel tua yang layarnya retak.

Pandi tidak memilih pekerjaan.
Ia hanya memilih bertahan.
Namun mimpi itu perlahan retak.

Saat sampai di tingkat sarjana muda, biaya kuliah menghantamnya tanpa ampun. Pandi mencoba bertahan, mengajukan beasiswa ke tujuh universitas. Satu per satu penolakan datang.
Tidak ada yang mau menolong pemuda pendiam dengan mata lelah itu.

Akhirnya Pandi menyerah
bukan karena malas, tapi karena tak punya pilihan.

Pandi memutuskan bekerja penuh, mengumpulkan uang, berharap suatu hari bisa kembali kuliah.

Tapi Jakarta tidak ramah pada orang yang berharap.

Panfi mencoba menjadi caddy golf di laapngam Golf Rawamangun.

Tiga tahun.
Pandi berjalan kaki di bawah matahari, mengangkat tas golf mahal, mendengar tawa orang-orang kaya.
Tujuannya sederhana mendekati para bos, siapa tahu ada rezeki, ada jodoh pekerjaan.
Ironisnya,
Pandi sendiri pemain golf, single handicap.

Tapi pengetahuan dan kemampuan tak pernah cukup tanpa koneksi.
Lapangan golf mahal hanya menerima caddy perempuan.
Ia melamar jadi Caddy Master,

tapi kalah oleh persaingan yang kejam.
Ia pindah menjadi calo rumah dan mobil bekas.

Untung pekerjaan ada, tapi biaya operasional tinggi, permainan licik, dan hati kecilnya mulai menolak.

Pandi sebenarnya pandai mengaji.
Ia mencoba menjadi guru agama.
Bertahan setahun.
Tapi jiwanya tidak tenang. Bukan karena mengajar itu salah melainkan karena ia tahu, hatinya dipenuhi kegelisahan yang belum selesai.

Lalu ia membuka usaha tambal ban mobil.
Hasilnya lumayan
karena dibantu penyebar paku di jalanan.
Tapi setiap malam setelah mengaji, dadanya sesak.

Rezeki ini tidak halal, bisik hatinya.
Akhirnya Pandi
berhenti kerja tambal ban dengan intrik lepas paku lalu bagi hasil sama Mafia jalanan tersebut
Tanpa sadar,
10 tahun berlalu di Jakarta.
Usianya kini lebih dari 30 tahun.

Teman-temannya sudah menikah, punya rumah, punya gelar.
Sedangkan Pandi
maju salah, mundur lebih salah.
Ia mencoba jadi sopir truk. Tubuhnya tak sanggup karena beratnya pekerjaan 24 jam non stop

Akhirnya Pandi mencoba menjadi sopir pribadi.
Setiap hari Pandi mengendarai mobil mewah
yang bukan miliknya.

Tangannya memegang setir mahal, tapi hidupnya tetap di tempat.

Cita-cita menjadi sarjana teknik sipil telah runtuh.
Hampir 10 tahun Pandi menjadi sopir pribadi walaupun
Ganti majikan, ganti alamat, ganti nasib
yang tak pernah berubah.

Malam hari, saat Jakarta terlelap, ia masih berjuang.
Ia menjadi guru les online, membantu mahasiswa.
Bahkan menjadi joki skripsi, selama itu halal.

Empat tahun lalu, ayahnya meninggal dunia.
Pandi tidak sempat menemani di detik terakhir.
Ia hanya bisa menangis di kamar sempit Jakarta, menggenggam ponsel yang bergetar membawa kabar duka.

Sejak itu, satu tekadnya tak berubah:
mengirim uang untuk ibunda tercinta.
Ia menunda bahagia.
Menunda jodoh.
Menunda hidupnya sendiri.

Cinta?
Ia sudah lupa rasanya dicintai.
Sepanjang hidupnya, Pandi belum pernah hidup senang.
Tak pernah punya rumah sendiri.
Tak pernah liburan.
Tak pernah merasa aman.
Ironisnya,
Pandi setiap hari mengendarai mobil orang kaya
mobil yang harganya setara puluhan tahun hidupnya.

Di dalam mobil, saat menunggu majikan, Pandi sering menunduk.
Menangis
Air matanya jatuh diam-diam.
Bukan karena iri.
Tapi karena lelah menjadi kuat sendirian.
Ia bertanya pada Tuhan:
“Apakah salah aku bermimpi?”

Dan Tuhan menjawab dengan diam
diam yang panjang.
Namun Pandi tetap hidup.

Tetap bekerja.
Tetap mengaji.
Tetap mengirim uang ke kampung.
Karena mungkin, kehidupan bukan tentang menang,
melainkan tentang tidak menyerah meski kalah berkali-kali.
Dan selama napas masih ada,

Pandi
pemuda dari Kalimantan Barat
akan terus berjalan,
meski jalannya basah oleh air mata.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Detik Terakhir Tahun dalam Cinta

Cerpen no 0038

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Desember akhir 2025

Kota
Jakarta malam itu tidak tidur.
Lampu-lampu gedung menjelma menjadi bintang bintang di bumi, jalanan berkilau oleh pantulan hujan sore, dan udara akhir tahun membawa aroma rindu yang manis.

Di antara hiruk-pikuk kota yang biasanya tergesa, malam itu waktu seakan melambat
memberi ruang bagi cinta untuk bernapas.

Di sebuah rumah sederhana di kawasan Jakarta Selatan, tawa mengalir seperti alunan musik. Bukan tawa yang dibuat-buat, melainkan tawa yang lahir dari rasa aman, dari hati yang diterima apa adanya.
Arga duduk di anak tangga teras, memegang secangkir teh hangat.
Matanya menatap langit Jakarta yang sesekali disinari kilatan kembang api dari kejauhan.
Di balik kebisingan kota, ada satu nama yang berulang kali bergetar di dadanya:
Nara.

“Arga, jangan melamun.
Nara sudah datang,” suara ibunya terdengar lembut.
Arga berdiri. Jantungnya berdegup seperti genderang kecil yang bersemangat menyambut pergantian tahun.

Nara melangkah masuk dengan senyum yang selalu berhasil membuat Jakarta terasa lebih ramah. Jaket tipis membalut tubuhnya, rambutnya tergerai, dan matanya memantulkan cahaya kebahagiaan yang jujur.

“Hai,” ucap Nara.
“Hai,” jawab Arga, disertai senyum yang tak bisa ia sembunyikan.
Kedua keluarga telah berkumpul di ruang tamu. Ayah Arga dan ayah Nara berbincang akrab tentang Jakarta tempo dulu
tentang bus kota, tentang hujan yang selalu datang tiba-tiba, tentang mimpi-mimpi yang tumbuh di tengah beton.

Ibu-ibu tertawa kecil, sesekali saling menyodorkan kue dan cerita masa muda.
Tak ada sekat.

Tak ada rasa canggung.
Hanya kehangatan yang mengalir begitu saja.
Meja makan dipenuhi hidangan sederhana, tetapi malam itu terasa seperti perjamuan istimewa.
Setiap suapan disertai canda, setiap tawa menjadi doa yang diam-diam dipanjatkan.

Arga dan Nara duduk bersebelahan. Sesekali bahu mereka bersentuhan, dan setiap sentuhan kecil itu terasa seperti janji yang tak terucap.

“Kamu tahu,” bisik Nara sambil tertawa kecil, “aku biasanya tidak suka keramaian Jakarta saat tahun baru.”

“Lalu kenapa sekarang kamu tersenyum terus?” tanya Arga menggoda.

“Karena kali ini Jakarta terasa… rumah,” jawab Nara pelan.

Di luar, suara petasan mulai terdengar lebih sering.
Kota bersiap menyambut waktu yang baru. Namun di dalam rumah itu, kebahagiaan telah lebih dulu hadir.

Menjelang tengah malam, semua berkumpul di halaman. Jakarta berdengung, seperti jantung raksasa yang berdetak penuh harap.
Hitungan mundur dimulai
diselingi tawa, saling goda, dan sorak yang tak sempurna namun tulus.
Sepuluh…
Sembilan…
Delapan…
Arga melirik Nara.
Nara tersenyum, matanya berbinar.
Tiga…
Dua…
Satu…
Horeeeee

Langit Jakarta meledak dalam warna.
Kembang api menari di udara, memantulkan cahaya di wajah-wajah yang bahagia.

Tahun berganti, dan sorak sorai membaur dengan doa-doa yang melayang tanpa suara.

“Selamat tahun baru,” ucap Arga.
“Selamat tahun baru,” balas Nara, tertawa.

Mereka tertawa bersama, tanpa alasan selain rasa senang yang meluap. Tawa remaja yang ringan, tetapi sarat makna.

Tawa yang tidak takut pada masa depan, karena cinta memberi keberanian.
Di antara riuh kembang api, Arga dan Nara duduk kembali di teras.
Angin malam Jakarta menyapa lembut.
Dari kejauhan, klakson mobil bersahutan seperti irama kota yang ikut merayakan.

“Apa harapanmu tahun ini?” tanya Arga.
Nara terdiam sejenak. “Aku ingin tetap sederhana.

Tetap bisa tertawa.
Tetap punya orang-orang yang saling menggenggam, bukan saling menjauh.”

Arga mengangguk. “Aku ingin belajar mencintai dengan benar. Bukan hanya mencintaimu, tapi juga menghargai keluarga, waktu, dan mimpi.”

Di belakang mereka, kedua keluarga masih berbincang hangat.
Ada tawa orang dewasa yang tenang, ada nasihat yang disampaikan tanpa menggurui. Harmoni itu terasa nyata
seperti pelukan panjang yang melindungi dua hati muda yang sedang belajar mencinta.

Malam semakin larut, tetapi kebahagiaan tidak ingin segera pulang.
Ketika akhirnya Nara harus kembali, mereka berdiri di depan rumah.
Lampu jalan Jakarta menyinari wajah mereka dengan cahaya kuning keemasan.

“Terima kasih untuk malam ini,” kata Nara.

“Terima kasih sudah membuat akhir tahunku sempurna,” jawab Arga.

Tak ada janji besar.
Tak ada kata berlebihan.
Hanya senyum, dan keyakinan bahwa cinta yang sederhana sering kali adalah yang paling jujur.

Nara melangkah pergi.
Arga menatap punggungnya hingga menghilang di tikungan jalan.
Ia kembali memandang langit Jakarta
kembang api telah reda, tetapi hatinya masih penuh cahaya.
Di kota yang tak pernah benar-benar diam ini, cinta remaja tumbuh dengan caranya sendiri.

Di antara tawa dan canda, di bawah restu keluarga yang harmonis, cinta itu menjadi harapan.
Harapan bahwa kebahagiaan bukan sekadar impian.

Harapan bahwa cinta penuh suka cita akan selalu menemukan jalannya.
Dan di setiap akhir tahun, Jakarta akan selalu menjadi saksi:
bahwa cinta
sekecil apa pun
layak dirayakan.

Selamat tahun baru 2026

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Yogyakarta Kota untuk pulang Bukan kota untuk pergi

Yogyakarta
Kota untuk pulang
Bukan kota untuk pergi

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen no 0034

JW Marriott
26 Desember 2025

Sebuah istilah yang sangat menarik
Siapapun yang pergi ke Yogyakarta
Dia akan merasa Pulang

Nah itulah arti sedikit tentang Yogyakarta
Home City

Saya meluncur Kota Yogyakarta betul betul. Merasa pulang karena serasa kota kedua saya
Begitu banyak sahabat
Dan yang paling terkesan adalah makanan
Setelah tiba di stasiun Gambir disambut Pimpinan Stasiun Bapak Burhan
Kami menikmati rehat di VIP Barat bersama bapak Budi Hidayat dan Mama Hian dan Ibu Lena
Ada pak Zeno
Kami di hantar ke atas Kereta Api Argo Dwipangga Luxurious
Menuju Yogya
Sesampai di Yogya sempat mengunjungi sahabat Suster Francine SM GSGM yang sedang sakit
Hujan besar mengguyur kami sehingga membuat kampung tengah (perut protes)
Akhirnya kami menuju Gudeg Sagan milik Sahabat KRIS
Menikmati Gudeg Sagan di sela sela hujan deras memang kenikmatan sendiri

Perjalanan dengan kereta lebih kurang 6 jem menyempat kan saya menulis sebuah Kisah Cinta di tanah Yogyakarta
Home City atau Kota Pulang Rumah

Kisah Cinta Sekar dan Arya
Yogyakarta

Ketika Cinta Belajar Berdiam
Yogyakarta tidak pernah berteriak untuk dicintai.
Ia hanya hadir
tenang, bersahaja, dan sabar
seperti cinta yang matang.

Di kota inilah Arya pertama kali bertemu Sekar.
Pagi itu, udara masih lembap oleh embun yang tertinggal di daun-daun trembesi. Jalanan dekat Tugu belum ramai.

Becak melintas perlahan, seolah enggan mengganggu kesunyian.
Arya berdiri di pinggir jalan, memegang secangkir kopi hitam yang mulai mendingin, matanya memandang lurus ke utara
ke arah Merapi yang samar.

Sekar datang seperti angin pagi.
Tidak tergesa. Tidak mencuri perhatian.
Ia hanya ada.
Gaun putih sederhana, rambut dikuncir rendah, senyum yang tidak dibuat-buat.
Saat matanya bertemu mata Arya, tidak ada percikan berlebihan
hanya rasa hangat, seperti sinar matahari pertama yang menyentuh kulit.

“Yogya selalu begini ya,” kata Sekar pelan.

“Membuat orang ingin diam.”

Arya tersenyum.
“Dan membuat diam terasa cukup.”

Mereka berjalan tanpa tujuan, menyusuri Malioboro yang belum sepenuhnya bangun.

Toko-toko masih menutup pintu, pedagang mengatur dagangan dengan sabar. Kota itu seperti sedang menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.

Cinta mereka tumbuh seperti Yogya sendiri
tidak mendadak, tidak memaksa.
Di sebuah angkringan kecil dekat Stasiun Tugu, mereka duduk berdampingan. Teh panas mengepul.
Nasi kucing sederhana terasa istimewa.

Mereka berbicara tentang hal-hal kecil: buku yang disukai, masa kecil, mimpi yang belum tentu tercapai.
Namun di antara kata-kata itu, ada sesuatu yang lebih kuat:
kenyamanan untuk tidak selalu berbicara.

Malam hari, Yogya berubah menjadi puisi.
Lampu-lampu jalan memantul di wajah Sekar.

Arya memperhatikannya diam-diam. Ia menyadari bahwa kecantikan Sekar tidak hanya pada paras, melainkan pada caranya mendengarkan
utuh, tanpa tergesa menyela.

“Kalau suatu hari kamu harus pergi,” kata Sekar lirih, “apa yang akan kamu ingat dari Yogya?”

Arya berpikir sejenak.
“Keheningan yang tidak sepi. Dan seseorang yang membuatku betah di dalamnya.”

Sekar tersenyum. Matanya basah oleh cahaya, bukan oleh air mata.
Hari-hari berlalu seperti alunan gamelan
perlahan, berlapis, penuh makna.

Mereka menyusuri Keraton, melangkah dengan sopan, seakan waktu meminta dihormati.
Di sana Arya belajar bahwa cinta, seperti kepemimpinan Jawa, bukan soal menguasai, melainkan merawat.

Di Taman Sari, mereka berdiri di antara lorong-lorong batu yang pernah menyimpan rahasia.
Sekar menempelkan telapak tangannya ke dinding tua.

“Tempat ini pernah mencintai dan dicintai,” katanya.
“Seperti kita.”

Arya menggenggam tangan Sekar. Hangat.
Tenang.
Nyata.
Sore hari sering mereka habiskan di selatan kota, memandang langit yang berubah warna di Parangtritis.

Angin laut membawa aroma garam dan kenangan.

Ombak tidak pernah berjanji akan tenang, namun selalu kembali ke pantai.
“Cinta itu seperti laut ya,” ucap Sekar.

“Kadang riuh, kadang sunyi. Tapi selalu setia pada garisnya.”

Arya mengangguk.
“Dan Yogya mengajarkan kita untuk tidak takut pada gelombang.”

Malam terakhir sebelum Sekar harus kembali ke kotanya Jakarta, hujan turun perlahan. Mereka berteduh di bawah emperan kecil. Tidak ada pelukan berlebihan, tidak ada drama. Hanya dua jiwa yang saling memahami bahwa keindahan tidak selalu harus dimiliki
kadang cukup dihayati.

“Apa kita akan bertemu lagi?” tanya Sekar.

Arya menatap hujan.
“Yogya tidak pernah benar-benar melepaskan orang yang mencintainya.”

Sekar tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Arya.

Dalam diam, kota itu menyimpan janji.
Ketika Sekar pergi, Yogya tetap di tempatnya.
Tenang.
Setia.
Bersahaja.
Namun Arya tahu
seperti cinta yang baik
sesuatu telah berubah di dalam dirinya. Ia belajar bahwa mencintai tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang menjadi ruang pulang.
Dan hingga hari ini, siapa pun yang datang ke Yogyakarta dengan hati terbuka, akan merasakan hal yang sama:
bahwa kota ini bukan sekadar tujuan,
melainkan perasaan.
Terpesona.
Tenang.
Dan ingin tinggal lebih lama
di kota, atau di hati seseorang.

Yogyakarta
Home City
Kota untuk Pulang
Bukan untuk Pergi

Www.kris.or.id
Www.adharta.com

Natal dan Cerita di Tengah Hujan dan Badai

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen no 0033

Hari yang menegangkan

Natal tahun ini datang dengan cerita yang tak akan mudah kami lupakan.

Anak-anak saya bersepakat membuat acara Natal sederhana di rumah.
Kami memilih potluck setiap orang membawa hidangan, bukan sekadar makanan, tetapi juga kasih dan kebersamaan.

Menjelang sore, rencana kecil pun dibuat: membeli kado Natal untuk anak-anak mantu dan cucu-cucu tercinta.

Mall Central Park dipilih, jaraknya hanya sekitar dua kilometer dari rumah.
Biasanya, perjalanan singkat itu hanya memakan waktu lima belas menit.

Namun malam itu berbeda.
Langit runtuh oleh hujan deras, seakan menumpahkan seluruh isinya. Jalanan lumpuh.

Perjalanan yang biasanya ringan berubah menjadi perjuangan selama dua setengah jam. Lampu rem memerah di mana-mana, klakson bersahut
sahutan, dan jarum jam terus bergerak tanpa belas kasihan.

Waktu menunjukkan pukul 19.30, padahal acara seharusnya dimulai pukul 18.00.
Belanja kado pun dilakukan terburu-buru. Keluar dari area parkir Central Park justru lebih menyiksa
dua jam hanya untuk bergerak beberapa meter. Dalam kepenatan itu, kami mencoba tetap sabar. Natal, bukankah memang tentang menunggu?

Besan saya dan Ola akhirnya turun lebih dulu, mencoba memanggil Gojek motor.

Antrean panjang, lebih dari tiga puluh meter.

Hujan mulai agak mereda juga Tiba-tiba, seorang gadis dengan sepeda motor menghampiri.
Ia menawarkan tumpangan. Karena mengira itu Gojek, besan saya langsung menaikkan Ola cucu saya yang paling kecil, dan beliau duduk di belakang.

Mereka diantar sampai depan rumah.
Saat hendak dibayar, gadis itu tersenyum dan berkata pelan,
“Saya bukan Gojek, ibu tadi Kebetulan lewat saja. Dan lihat Ibu dan asi kecil Ola saya jadi iba dan niat tulus untuk antar larena kalau tunggu belum tentu 1 jam bisa dapat gojek”

Kami semua tertegun.
Jika ini bukan malaikat, lalu harus disebut apa?

Di dunia yang sering terasa keras dan terburu-buru, masih ada kebaikan yang datang tanpa nama dan tanpa pamrih.
Seperti palungan di Betlehem saat semua penginapan penuh, kasih Tuhan menemukan tempatnya di kandang sederhana.

Tanpa kandang itu, bayangkan Sang Bayi harus lahir di tengah jalan, kedinginan, sendirian.
Malam terus berjalan.

Senly dan Elle cucu saya nomor 3 terpaksa turun dari mobil, berjalan kaki hingga Aaprtemen Grand Tropik aamping Ciputra Mall
sebelum akhirnya mendapatkan taksi.

Dea menantu saya menemani Pandu, baru bisa keluar dari Central Park pukul 21.00. Letih, kesel , dan lapar
namun tidak kehilangan harapan.
Walau larut, acara tetap berlangsung. Tukar kado dilakukan dengan tawa yang tulus.

Makan malam dihadiri Pak Lendy, Pak Dwi, pak Bobby, dan Fandy (bukan Kawanua), dan Ibu Monik. Ibu Betsy

Di tengah keterlambatan dan kekacauan, rumah justru terasa penuh. Bukan oleh kesempurnaan, melainkan oleh cinta Kasih bersamw

Natal tahun ini mengajarkan kami: menyambut kelahiran Yesus tidak selalu dalam keadaan ideal.

Ada kekurangan, kelemahan, kesulitan, dan macet yang panjang.
Namun kami percaya, seperti hujan yang akhirnya reda, semua akan berlalu dengan baik.
Besok pagi, saya dan istri, bersama Pak Budi Hidayat dan Ibu Hian, akan berangkat ke Yogyakarta diantar Pak Zeno ke Stasiun Gambir.

Kereta Taksaka Luxurious pukul 08.50 akan membawa kami menghadiri perayaan 55 tahun Wedding Anniversary Bapak Wintaka dan Ibu Aryati di Hotel Marriott Yogyakarta,
27 Desember 2025 malam.

Natal ini mungkin basah dan melelahkan,
tetapi di dalamnya ada senyum, tawa, dan kebaikan kecil
yang membuat iman tetap hangat.

Selamat Natal
Damai sejahtera dan penuh Suka Cita buat semua sahabat

Adharta

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

PESAN NATAL

PESAN NATAL

Oleh : Adharta
Ketua Umum KRIS

Jakarta, 25 Desember 2025

Salam Damai Sejahtera Natal menyertai
Untuk

Sahabat KRIS
Dimanapun Anda berada

Untuk seluruh Anak Bangsa Indonesia

Untuk semua sahabatku di seluruh Dunia

Saudara-saudaraku yang terkasih,

Dan seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang agama, suku, ras maupun budaya.

Setiap kali Natal tiba, selalu ada pertanyaan yang muncul, khususnya dari mereka yang bukan penganut agama Kristen
Apa arti Natal sesungguhnya?
Pertanyaan ini wajar, bahkan penting. Sebab Natal telah dirayakan lebih dari dua ribu tahun, diteliti oleh para ahli sejarah, dibahas oleh tokoh agama lintas iman, dan dikaji oleh para pemikir dunia. Fakta sejarah mencatat bahwa kelahiran Yesus Kristus bukan sekadar kisah iman, melainkan peristiwa yang nyata dan diakui dalam perjalanan peradaban manusia.

Namun, Natal bukan semata-mata soal tanggal kelahiran, bukan pula hanya tentang pribadi Yesus Kristus sebagai tokoh sejarah.
Natal adalah tentang campur tangan Tuhan Allah sendiri dalam kehidupan manusia.
Natal adalah tanda bahwa Tuhan tidak tinggal jauh di langit, tetapi hadir, menyapa, dan menyentuh dunia dengan kasih-Nya.

Mari kita bersama saksikan

Pertama,
Natal dan Persahabatan.

Natal mengajarkan kita arti persahabatan yang jauh melampaui sekadar perdamaian formal atau hubungan kekeluargaan. Persahabatan sejati adalah kesediaan untuk saling memahami, menghormati perbedaan, dan berjalan bersama meskipun tidak selalu sependapat. Dalam konteks bangsa dan dunia internasional, persahabatan berarti keberanian untuk menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan sempit.
Natal mengingatkan kita bahwa persahabatan adalah jembatan yang menghubungkan hati, bukan sekadar kesepakatan politik atau ekonomi.

Persahabatan yang lahir dari semangat Natal mampu meredam kebencian, mencairkan kecurigaan, dan membuka ruang dialog yang tulus.

Kedua,
Natal sebagai Penyelesaian Masalah.
Hampir seluruh dunia hari ini bergumul dengan masalah konflik keluarga, perpecahan sosial, pertikaian antarbangsa, hingga peperangan yang merenggut jutaan nyawa. Natal hadir pada momentum yang sangat tepat. Natal membawa pesan Raja Damai
bukan raja yang berkuasa dengan senjata, melainkan Raja yang memerintah dengan kasih.

Damai yang dibawa Natal bukan damai semu yang menutupi luka, tetapi damai yang berani menyentuh akar persoalan.

Damai dalam keluarga dimulai dari kesediaan saling mengampuni.

Damai antar sahabat lahir dari kejujuran dan kerendahan hati.
Damai antar bangsa tumbuh ketika keadilan ditegakkan dan martabat manusia dihormati.
Natal mengajarkan bahwa setiap perselisihan, seberat apa pun, selalu memiliki jalan penyelesaian ketika kasih dijadikan dasar.

Ketiga,
Natal yang Membangun.

Bangsa Indonesia tidak asing dengan kehancuran.
Kita menyaksikan luka akibat bencana alam di berbagai daerah seperti Sibolga, Tapanuli, Aceh, dan wilayah lainnya.
Rumah hancur, harapan runtuh, dan beban hidup terasa sangat berat.
Natal mengingatkan kita bahwa membangun kembali tidak mungkin dilakukan sendirian.
Beban akan terasa ringan ketika dipikul bersama.
Natal dapat menjadi inisiatif gerakan membangun
Membangun fisik, membangun mental, dan membangun kembali kepercayaan diri mereka yang terluka.

Demikian pula dunia yang porak-poranda akibat perang. Banyak bangsa tidak mampu bangkit sendiri. Natal memanggil kita semua, siapa pun kita, untuk terlibat. Jika tidak dengan tenaga dan materi,
maka dengan doa dan kepedulian.

Sebab doa adalah bentuk solidaritas tertinggi yang melampaui batas negara dan agama.
Mari kita tundukkan kepala dan berdoa sejenak

Keempat,
Natal sebagai Suara Pemersatu Dunia.
Ada yang bertanya bagaimana mungkin hal-hal yang berbeda dapat bersatu?

Minyak dan air, api dan air,
debu dan angin semuanya tampak bertentangan. Namun alam mengajarkan kita bahwa perbedaan justru menciptakan keseimbangan. Air memadamkan api agar tidak membinasakan, angin menggerakkan debu menjadi tanah subur, dan perbedaan unsur membentuk kehidupan.
Natal mengajarkan prinsip yang sama: perbedaan bukan ancaman, melainkan potensi.
Ketika perbedaan dikelola dengan kasih dan kebijaksanaan, dunia menjadi tempat yang lebih indah dan bermakna.

Pandangan saya tentang Natal adalah ini
Natal adalah undangan universal untuk berdamai
dengan diri sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Natal bukan milik satu kelompok, melainkan pesan kasih bagi seluruh umat manusia.

Di tengah dunia yang gaduh oleh kebencian, Natal berbicara dengan suara lembut namun kuat
damai itu adalah Natal sendiri

Akhir kata,
Terimalah salam Damai Sejahtera Natal dari saya.

Kiranya doa Natal mengalir bagi seluruh anggota KRIS, para sahabat, dan dunia, agar semakin mengenal nilai-nilai kemanusiaan yang diperjuangkan KRIS
kasih, persatuan, dan harapan.
Selamat Natal.
Tuhan memberkati kita semua.

Adharta

Memperkenalkan
KRIS
Komunitas
Relawan
Indonesia
Sehat

Www.kriS.or.id

Www.adharta.com

AVATAR The Fire and Ash

AVATAR
The Fire and Ash

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Pandora
Desember 2025

Avatar
Api dan Abu

Api berkata
aku marah
aku luka
aku ingin membakar segalanya
agar rasa sakitku terlihat

Air berkata
aku mengalir
aku menerima
aku menyimpan ingatan
tanpa membencinya

Di antara keduanya
Pandora menangis
bukan karena perang
tetapi karena anak-anaknya
saling melupakan

Api lupa
bahwa ia berasal dari cahaya
Air lupa
bahwa ia juga bisa menenggelamkan
Lalu abu jatuh
sunyi
tidak panas
tidak dingin
Dan dari abu
tumbuh harapan kecil
yang berbisik

Hancur bukan akhir
Duka bukan musuh
Selama kau masih mendengar
aku masih hidup

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

WANITA HEBAT, JEJAK CINTA SEPANJANG ZAMAN

WANITA HEBAT, JEJAK CINTA SEPANJANG ZAMAN

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Desember 2025

CINTA IBU
Ia tidak pernah meminta dunia untuk memujinya. Langkahnya sederhana, suaranya sering tenggelam oleh hiruk-pikuk kehidupan.

Namun di balik kesunyian itu, tersimpan kekuatan yang tak pernah habis. Ibu adalah wanita hebat
bukan karena kecantikannya, bukan pula karena harta atau kepintaran yang dielu-elukan, melainkan karena keteguhan hatinya dalam menjalani hidup.

Sejak fajar menyapa hingga malam menutup hari, wanita hebat berdiri tegak menghadapi masalah yang datang silih berganti. Ia belajar bahwa hidup tak selalu adil, tetapi ia memilih untuk tidak menyerah.

Ketika lelah menghimpit, ia menundukkan kepala dalam doa, percaya bahwa setiap badai pasti berlalu, dan setiap luka akan menemukan sembuhnya.
Ibu
Wanita hebat tidak terlahir kuat
ia ditempa oleh proses. Ia belajar dari jatuh yang berulang, dari air mata yang disembunyikan, dari harapan yang nyaris padam.

Dalam diam, ia melukis kekuatan di kanvas kehidupan, membentuk dirinya menjadi pribadi yang sabar saat tertekan dan tetap tersenyum meski hati menangis.
Ia tahu kapan harus berbicara, dan lebih sering tahu kapan harus diam.
Saat hinaan datang, ia memilih senyap, bukan karena kalah, tetapi karena ia mengerti bahwa harga diri tidak perlu dibela dengan kemarahan. Pesonanya bukan terletak pada penampilan, melainkan pada kemampuannya memaafkan
bahkan ketika luka itu dalam dan menyakitkan.

Ibu
Wanita hebat mampu membalut luka hatinya sendiri. Ia tidak menunggu dunia mengerti penderitaannya. Dengan kesabaran, ia menyembuhkan dirinya, satu hari demi satu hari. Amarah yang membara ia padamkan dengan senyum, dan dendam yang mengintai ia hapuskan dengan maaf.
Ibu memilih damai, karena ia tahu kedamaian adalah bentuk kemenangan tertinggi.

Di dalam dirinya, cinta bersemi tanpa syarat.
Ibu memberi tanpa menghitung, mencintai tanpa menuntut, dan berkorban tanpa mengeluh.
Ibu mungkin tak tercatat dalam buku sejarah, tetapi namanya terukir abadi di hati orang-orang yang pernah disentuh kasihnya
anak-anaknya, keluarganya, dan mereka yang diam-diam ia kuatkan.

Pada Hari ini adalah peringatan hari Ibu
kita menundukkan kepala dengan rasa syukur. Untuk setiap wanita hebat yang telah dan terus berjuang dalam sunyi.

Untuk ibu, istri, anak, dan perempuan di mana pun berada
terima kasih atas cinta yang tak pernah lelah, kesabaran yang tak berbatas, dan keteguhan yang mengajarkan kami arti kekuatan sejati.

🌹 Selamat Hari Ibu 🌹

Engkau adalah doa yang hidup, dan cinta yang tak pernah usai.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Antara Cinta dan Macet di Jalan

oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen nomor : 0032

Medio Desember 2025

Tulisan ini
Buat Bapak Harjoko

Jakarta di suatu senja
Jumat sore selalu punya watak sendiri.

Jumat datang dengan lelah yang belum tuntas, dengan jam yang berjalan lebih lambat dari biasanya, dan dengan hujan yang seolah tahu kapan harus turun.

Sore itu, hujan telah lebih dulu bekerja sejak pagi
tak putus-putus
seperti pegawai teladan yang lupa jam pulang.

Angin kencang menyapu jalanan, udara dingin menyusup ke balik kaca mobil, dan langit tampak muram seakan ikut mengantre nasib di persimpangan.

Saya meninggalkan kantor dari arah Sunter menuju Central Park.
Setelah late lunch yang datang di jam yang sudah tak pantas disebut makan siang, kondisi jalan masih tampak bersahabat. Tidak ada tanda-tanda kemacetan.

Kendaraan bergerak wajar, lampu-lampu lalu lintas masih ramah, dan harapan pun ikut melaju.
Memasuki Kemayoran, suasana tetap tenang.
Google Maps menunjukkan waktu tempuh 50 menit. Artinya, dengan logika khas orang Jakarta
ditambah toleransi hujan dan takdir
perjalanan mungkin memakan waktu 90 menit.
Masih masuk akal.
Masih manusiawi. Masih bisa ditawar.
Namun, seperti cinta yang terlalu cepat percaya, kami lupa satu hal
Jakarta selalu punya kejutan.
Begitu mendekati pintu tol, dunia berubah.
Dua kilometer terakhir menjelma menjadi ujian iman.
Hampir 45 menit dihabiskan untuk bergerak sejauh orang berjalan sambil menelepon.
ETA ke Central Park melonjak menjadi pukul 19.00. Perjalanan kami, yang semula terasa ringan, tiba-tiba membengkak menjadi hampir tiga jam.
Macet itu bukan macet biasa.
Ia macet dengan penuh percaya diri.
Macet yang tak meminta maaf. Macet yang membuat orang mulai menghitung ulang dosa, pilihan hidup, dan alasan kenapa tidak sekalian jalan kaki saja.

Kami bertiga di dalam mobil yang di sopiru Fandy dan Lendy duduk di belakang
saling pandang.
Penyesalan mulai muncul
diam-diam tapi kompak. “Kenapa tadi tidak lewat jalan darat?”
Kalimat itu melayang di udara tanpa perlu diucapkan.

Seperti cinta lama yang tiba-tiba muncul di saat tidak tepat.
Dan di situlah saya sadar:
Macet bukan sekadar urusan jalan. Macet adalah cermin kehidupan.
Memilih jalan menuju suatu tempat selalu terasa sederhana
belok kanan atau kiri, tol atau non-tol. Namun hasilnya bisa jauh dari harapan.

Pepatah lama berkata, banyak jalan menuju Roma, tetapi tidak semua jalan menuju Roma bebas macet.
Begitulah hidup.
Begitulah cinta.
Begitulah pilihan-pilihan kecil yang kita ambil dengan keyakinan besar, lalu kita pertanyakan ulang ketika hasilnya tak sesuai ekspektasi.
Hidup adalah Pilihan (dan Bonusnya Konsekuensi)

Setiap pilihan membawa konsekuensi.
Salah memilih jalan bisa berujung macet total
padat merayap, bensin menipis, dan kesabaran diuji sampai level premium.
Namun jiwa yang besar tahu satu hal
pilihan tidak untuk disesali, tetapi untuk dijalani.
Macet memang menyebalkan, tetapi menggerutu berjam-jam tidak akan membuat mobil terbang. Justru di situlah seni hidup diuji
apakah kita menjadi manusia yang semakin kusut, atau justru menemukan kelonggaran di tengah keterbatasan.
Menikmati Perjalanan Ketika Harapan Tidak Mengecewakan
Dalam kemacetan itu, saya teringat satu kalimat rohani yang selalu menguatkan:
Pengharapan tidak mengecewakan
Spes non confundit
Harapan yang benar tidak pernah salah alamat.

Mungkin terlambat, mungkin berliku, mungkin basah oleh hujan
tetapi tidak pernah sia-sia. Jalan boleh macet, tetapi hati jangan ikut berhenti.

Kami mulai tertawa kecil di mobil.
Menertawakan keadaan. Menertawakan diri sendiri. Menertawakan fakta bahwa Jakarta ini seperti cinta pertama
bikin repot, tapi selalu dirindukan.
Jangan Terlalu Berhitung
Dalam hidup, terlalu banyak berhitung sering membuat kita lupa satu hal
empati.
Kadang kita perlu mengalah. Kadang perlu mundur satu langkah agar yang lain bisa maju dua langkah.
Dalam keluarga, dalam komunitas, dalam relasi manusia
kata-kata harus dijaga, nada harus diturunkan, dan ego sebaiknya diparkir dulu di bahu jalan.

Macet mengajarkan kesabaran dengan cara yang brutal namun jujur.

Kenangan manis
40 Tahun Lalu
Becak, Helicak dan Bemo
Ada Jeruk, dan Tawa
Di tengah kemacetan itu, ingatan saya melompat 40 tahun ke belakang.
Saat kendaraan belum sebanyak sekarang. Jalan sempit jarang macet.
Suatu hari saya naik becak dari Tanah Abang menuju Kyai Tapa, Trisakti.

Di depan, sebuah helicak becak bermesin yang merasa dirinya helikopter bertabrakan dengan bemo roda tiga.
Tidak parah, tapi cukup untuk memancing drama.
Penumpang helicak adalah sepasang suami istri.
Sang istri
galaknya luar biasa.
Suaminya, orang Ambon, justru diam seribu bahasa.
Sopir helicak diam.
Sopir bemo diam.
Yang ribut justru penumpang dan penonton. Jakarta sudah lama suka tontonan gratis.
Jalan pun macet total.

Orang-orang berkumpul.
Ada yang menunjuk, ada yang menyimpulkan, ada yang sudah siap jadi hakim.

Saya punya acara di kampus. Waktu berjalan. Peluh mulai muncul.
Di dalam bemo, ada seorang kakek.
Usianya mungkin hampir 90 tahun. Ia membawa satu kantong plastik berisi jeruk lemon Cina.
Wajahnya tenang, seperti orang yang tahu dunia tidak perlu diburu.
Saya turun mencoba melerai.

Anehnya, sang kakek ikut turun dan malah menawarkan kami bertiga makan jeruk.
Bayangkan: macet, lapar, emosi, lalu disodori jeruk asam.
Ajaibnya, suasana mencair.
Kami tertawa. Saya membuka pembicaraan. Saya minta semua menepi, bicara baik-baik. Saya minta suami menenangkan istrinya. Pelan-pelan ego surut.
Akhirnya sepakat: tidak ada perkara. Jalan dibuka. Macet terurai.
Sang kakek kemudian pindah ke becak saya.
Di sepanjang perjalanan, ia bercanda, tertawa, bahkan mengaku bisa meramal.
Setiap kali ia tertawa, wajahnya seperti lupa bahwa usianya sudah lanjut.
Saya sadar saat itu
Senyum dan tawa adalah bunga cinta kasih yang paling sederhana, tapi paling ampuh.
Macet yang Menjadi Berkat
Kini, di tengah kemacetan menuju Central Park, saya kembali merasakan hal yang sama.
Macet masih ada. Hujan masih turun. Tapi hati sudah lega.
Jalan padat berubah menjadi ruang perjumpaan dengan kenangan, dengan nilai, dengan diri sendiri.
Macet ternyata bukan musuh.
Ia hanya guru yang datang tanpa janji.
Cuma satu yang perlu disesali:
kasihan mereka yang menunggu kita.
Untung sekarang ada TikTok. 😊

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Cinta sejati Susan

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Cerpen nomor 0031

Medio Desember
2025

“Baik atau buruk, tetap suami saya. Dan dia adalah pemberian Tuhan.”

Kalimat itu bukan hanya keluar dari bibir Susan, tetapi lahir dari kedalaman imannya.
Ia mengucapkannya bukan untuk membela, melainkan untuk berserah.
Bagi Susan, pernikahan bukan sekadar ikatan dua manusia, melainkan perjanjian jiwa yang disaksikan oleh Tuhan.

Susan lahir sebagai anak bungsu dari sepuluh bersaudara di sebuah desa terpencil di ufuk Timur, Papua Barat.
Desa itu jauh dari keramaian, dikelilingi hutan dan sungai, tempat hidup berjalan perlahan dan doa-doa sederhana naik bersama asap dapur rumah-rumah kayu. Keluarganya hidup cukup untuk ukuran desa tidak berlebih, namun tidak kekurangan.
Dari orang tuanya, Susan belajar bahwa hidup bukan tentang memiliki banyak, tetapi tentang mensyukuri yang ada.

Sejak kecil Susan dikenal pendiam dan lembut. Ia jarang membantah, tetapi jika telah mengambil keputusan, hatinya tak mudah digoyahkan. Ia percaya bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang sering kali tidak dimengerti manusia.

Pada usia dua puluh tiga tahun, Susan memilih menikah dengan Zainudin.
Pilihan itu mengejutkan banyak orang. Zainudin bertubuh besar dan bersuara lantang, tetapi hidupnya berantakan. Ia tidak memiliki pekerjaan tetap, gemar minum minuman keras, dan sering pulang dalam keadaan mabuk.

Keluarga Susan menentang keras pernikahan itu. Mereka takut Susan akan menderita. Keluarga Zainudin pun tidak sepenuhnya merestui
mereka merasa rendah diri dan tak sepadan.

Namun Susan telah menjalin hubungan dengan Zainudin selama empat tahun.
Ia melihat sisi lain lelaki itu: kerapuhan, kesepian, dan janji-janji untuk berubah.
Dalam hati Susan berkata, jika aku meninggalkannya sekarang, siapa yang akan mendoakannya? Ia percaya pernikahan dapat menjadi jalan perubahan.
Pernikahan mereka berlangsung sederhana.
Tidak ada pesta besar.
Hanya doa, air mata, dan harapan.
Rumah papan kecil menjadi saksi janji setia Susan.
Ia mulai menjahit pakaian warga desa untuk memenuhi kebutuhan hidup. Zainudin berjanji akan mencari pekerjaan, namun janji itu sering tinggal kata-kata.
Tahun demi tahun berlalu. Anak demi anak lahir.
Sepuluh orang semuanya
enam laki-laki dan empat perempuan. Rumah kecil itu semakin sempit, tetapi penuh kehidupan. Tangis bayi bercampur suara mesin jahit Susan yang hampir tak pernah berhenti. Tangannya menjadi kasar, matanya sering perih, tetapi hatinya tetap lembut.
Zainudin tidak berubah seperti yang Susan doakan. Kebiasaan buruknya justru semakin menjadi.
Ia memaksa meminta uang hasil jahitan Susan. Ia mabuk-mabukan, berjudi, dan bermain perempuan.

Berkali-kali Susan menangis dalam diam. Berkali-kali ia bertanya pada Tuhan mengapa hidupnya begitu berat.
Namun setiap kali bangkit, ia memilih bertahan.

“Kesetiaan bukan soal layak atau tidak layak,” bisik Susan dalam doanya, “tetapi soal taat.”
Suka dan duka berjalan berdampingan. Ada hari-hari bahagia: saat anak pertama masuk sekolah, saat Natal mereka bernyanyi bersama, saat cucuran hujan membawa harapan panen. Ada pula hari-hari gelap
ketika uang sekolah tak ada, ketika Susan sakit namun tetap menjahit, ketika anak-anak menahan malu melihat ayah mereka pulang mabuk.

Suatu malam, sebuah peristiwa mengubah pandangan seluruh desa.

Zainudin pulang dalam keadaan mabuk berat. Langkahnya limbung.
Tanpa sadar, ia terjatuh ke dalam sumur tua di belakang rumah.
Susan yang melihat kejadian itu berlari.
Tanpa berpikir panjang, ia ikut terjun ke dalam sumur.
Teriakan warga memecah malam.
Mereka berhasil menolong keduanya.
Luka mereka ringan, tetapi keheranan warga sangat besar. Mengapa Susan melakukan tindakan yang begitu nekat?
Dengan tubuh gemetar dan mata basah, Susan menjawab pelan,
“Karena dia suami saya. Saya bersamanya, hidup atau mati.”

Sejak malam itu, keluarga besar semakin keras mendesak Susan untuk bercerai. Banyak yang memutus hubungan. Mereka lelah menasihati. Namun Susan tetap teguh.

“Baik atau buruk, dia suami saya. Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang berhak mengambil,” katanya.

Anak-anak tumbuh dalam kerasnya kehidupan. Mereka melihat ayah yang sering gagal dan ibu yang tidak pernah menyerah.
Dari Susan, mereka belajar arti tanggung jawab, kerja keras, dan pengampunan. Susan selalu berpesan, “Jangan membenci ayah kalian.
Jadilah manusia yang lebih baik.”
Anak-anak itu tumbuh menjadi orang-orang baik.
Ada yang menjadi guru, perawat, pengusaha kecil, dan pelayan gereja.
Mereka menikah dan memiliki anak.
Rumah Susan kembali ramai oleh tawa cucu-cucu. Dalam kebahagiaan itu, Susan terus berdoa bukan agar hidupnya mudah, tetapi agar imannya tetap kuat.

Zainudin menua tanpa banyak perubahan. Di usia tujuh puluh tahun, tubuhnya melemah.
Susan merawatnya dengan setia
menyuapi, membersihkan, dan berdoa di sampingnya. Tidak ada dendam di hatinya.
Hanya penyerahan penuh kepada Tuhan.
Zainudin meninggal dunia dengan tenang. Setahun kemudian, Susan menyusul.
Anak-anak dan cucu-cucu mengantar kepergiannya dengan air mata dan rasa hormat.
Kini, nama Susan dikenang di desa itu.
Bukan karena harta atau kedudukan, melainkan karena imannya. Kisah hidupnya menjadi pengingat bahwa kasih sejati bukan tentang menerima yang sempurna, melainkan setia dalam ketidaksempurnaan.
“Baik atau buruk, tetap suamiku” bukan lagi kalimat pembelaan, melainkan kesaksian iman bahwa kasih yang tulus tidak pernah sia-sia di mata Tuhan.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com