Wang Pingping

Wang Pingping

Cerpen no 0063

Oleh : Adharta
Ketua Umum
KRIS

Jakarta
Akhir Maret 2026

Langkah sunyi

Di sebuah kota di Tangerang
Kota kecil yang selalu diselimuti kabut pagi, hiduplah seorang perempuan bernama
Wang Pingping. Namanya dikenal sederhana, tetapi setiap orang yang pernah berjumpa dengannya akan mengingat satu hal
cara ia berjalan, tenang dan anggun, seolah setiap langkahnya memiliki makna.

Pingping bekerja di sebuah toko buku tua di sudut jalan yang jarang dilalui orang.

Rak-rak kayu yang berdebu, aroma kertas lama, dan cahaya matahari yang menembus jendela kecil menjadi dunia yang ia jaga setiap hari.

Banyak yang bertanya mengapa ia memilih tempat sepi seperti itu, padahal wajahnya yang lembut dan Cantik
sikapnya yang sopan bisa membawanya ke kehidupan yang lebih ramai.
Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa Pingping menyukai kesunyian.

Ping ping datang ke kota itu lima tahun lalu, tanpa membawa banyak barang
hanya sebuah koper kecil dan sebuah buku tua bersampul hijau. Buku itu selalu ia simpan di laci kasir, dan tak pernah sekalipun ia membiarkan orang lain menyentuhnya.

Suatu sore, ketika hujan turun perlahan dan jalanan menjadi lengang, seorang pria muda masuk ke toko. Rambutnya sedikit basah, matanya tajam namun hangat.

“Apakah toko ini masih buka?” tanyanya.

Pingping mengangguk pelan.

“Selama lampu masih menyala, kami selalu buka.”

Pria itu tersenyum.

“Jawaban yang menarik.”

Namanya Surya. Ia adalah seorang penulis yang sedang mencari tempat tenang untuk menyelesaikan novelnya.
Tanpa sengaja, ia menemukan toko buku itu dan merasa seperti menemukan dunia yang hilang.

Hari demi hari, Surya mulai sering datang. Kadang hanya duduk membaca, kadang berbincang dengan Pingping.

Percakapan mereka tidak banyak, tetapi selalu terasa cukup.

“Kenapa kamu selalu di sini?” tanya Surya suatu hari.
Pingping menatap jendela.

“Karena di sini, waktu berjalan lebih lambat.”

Surya tertawa kecil.

“Atau mungkin kamu yang ingin berhenti dari waktu.”

Pingping tidak menjawab.
Seiring waktu, Surya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Pingping.
Ia selalu tersenyum, tetapi matanya sering terlihat jauh
seperti seseorang yang hidup di masa lalu.

Suatu malam, listrik di toko padam.
Hanya cahaya lilin yang menerangi ruangan.
Hujan di luar semakin deras.

“Pingping,” kata Surya pelan,
“apa yang kamu sembunyikan?”

Pingping terdiam lama. Lalu, dengan gerakan hati-hati, ia membuka laci dan mengeluarkan buku bersampul hijau itu.

“Ini,” katanya, “adalah alasan aku di sini.”

Surya menerima buku itu. Halamannya sudah menguning, tetapi tulisan di dalamnya masih jelas.
Itu adalah kumpulan cerita
cerita tentang seorang perempuan bernama Pingping dan seorang pria yang mencintainya.

“Ini… kisahmu?” tanya Surya.

Pingping mengangguk. “Ditulis oleh seseorang yang dulu sangat berarti bagiku.”

“Di mana dia sekarang?”

Pingping tersenyum tipis. “Tidak ada lagi.”

Ternyata, lima tahun lalu, Pingping hampir menikah.
Pria yang ia cintai adalah seorang penulis, penuh mimpi dan harapan.
Mereka berjanji akan menjalani hidup sederhana bersama.
Namun, sebuah kecelakaan merenggut semuanya.
Pria itu meninggal sebelum pernikahan mereka terlaksana.
Buku itu adalah karya terakhirnya
kisah cinta mereka yang belum selesai.

“Aku datang ke kota ini untuk melupakan,” kata Pingping pelan.

“Tapi ternyata, aku hanya belajar hidup bersama kenangan.”

Surya menutup buku itu dengan hati-hati.
Untuk pertama kalinya, ia melihat air mata di mata Pingping.

“Kenapa kamu tetap menyimpannya?” tanyanya.

“Karena itu satu-satunya cara aku merasa dia masih ada.”

Hening menyelimuti mereka.
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah.

Surya tidak lagi sekadar pengunjung; ia menjadi seseorang yang memahami kesunyian Pingping.

Namun, semakin dekat mereka, semakin jelas satu hal

Pingping masih terikat pada masa lalu.
Suatu pagi, Surya datang membawa naskah.

“Aku sudah selesai,”
katanya.

Pingping tersenyum.

“Akhirnya.”

“Tapi aku belum yakin dengan akhirnya.”

“Kenapa?”

Surya menatapnya.

“Karena aku belum tahu apakah orang bisa benar-benar melupakan.”

Pingping terdiam.

“Menurutmu?” tanya Surya.

Pingping menggeleng pelan.

“Tidak semua harus dilupakan.”

“Lalu?”

“Kadang, kita hanya perlu belajar membuka hati lagi.”

Kata-kata itu menggantung di udara.
Beberapa hari kemudian, Surya tidak datang lagi.

Hari-hari terasa lebih sunyi dari biasanya. Pingping tetap menjalani rutinitasnya, tetapi ada kekosongan yang tak bisa ia abaikan.

Hingga suatu sore, sebuah paket datang.
Di dalamnya ada sebuah buku baru
novel karya Surya.

Judulnya Langkah Sunyi.

Pingping membuka halaman pertama.
Di sana tertulis:
Untuk seseorang yang mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki, tetapi tentang keberanian untuk melangkah lagi.

Air mata perlahan jatuh.
Di halaman terakhir, ada sebuah catatan

Jika suatu hari kamu siap, aku akan menunggu di tempat pertama kita bertemu.

Pingping menutup buku itu. Ia menatap toko, rak-rak buku, dan jendela yang selama ini menjadi dunianya.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia ragu.

Langkahnya perlahan menuju pintu.
Hujan baru saja berhenti, dan udara terasa segar.
Ia menggenggam buku bersampul hijau itu… lalu meletakkannya kembali di laci.
Dengan napas panjang,
Wang Pingping melangkah keluar.

Langkahnya masih tenang. Masih anggun.
Namun kali ini, bukan menuju masa lalu.
Melainkan menuju kemungkinan masa depan baru.

Www.kris.or.id

Www.adharta.com

Leave a comment