Nunut

Swargo nunut, neroko katut.

passionSaya bersama istri pernah ikut sebuah retret di tahun 90-an di Bogor. saya lupa nama pastor yang membawanya, tapi saya tidak bisa melupakan potongan-potongan sharing beliau tentang kehidupan keluarga. Menurut beliau, hubungan suami-istri dan kakak-adik itu, tidak hanya berbentuk hubungan pribadi atau hubungan persahabatan biasa, tetapi ada hubungan batin dan hubungan emosional yang sangat erat sekali.
Kalau saya menendang kaki anak saya paling dia nangis. Kalau saya menendang kaki istri saya paling dia ngomel. Kalau aku menendang kaki guru paling dihukum berdiri satu kaki. Kalau aku menendang pak lurah, wah aku bisa dihukum denda. Kalau aku menendang kaki menteri paling tidak kena hukum penjara
apalagi kalau aku menendang kaki presiden wah bisa gawat.
Artinya semakin tinggi hubungan kita dengan seseorang, maka sanksi dan hukuman kita semakin berat dan ini bertolak belakang jika kita behubungan dengan Tuhan. Kadang kita berbuat dosa dengan mengkhianati-Nya, memukulnya, mencambuk dan mengkoyak-koyak badan-Nya, balasan-Nya justru dosa kita malah diampuni. Demkian hubungan keluarga yang tercipta, kita harus mengikuti apa yang dilakukan Tuhan melalui perumpamaan Anak yang Hilang. Anak bungsu yang begitu bersalah tapi Tuhan begitu sayang kepada anak-anaknya.
Sungguh kalimat “Swargo nunut, neroko katut” baik sekali maknanya”.
Artinya kalau suami menjadi orang baik, maka istri akan ikut menikmatinya dalam surga dunia beserta anak-anak dan seluruh keluarga. Tetapi kalau suami menjadi orang jahat, maka istri bahkan anak-anak semua akan ikut menderita menjadi neraka dunia. Demikian juga kakak berbuat baik, keluarga semua senang, tetapi kalau adik berbuat cela semua ikut malu.
Mengenang orang tua saya khususnya ibu saya, beliau seorang ibu yang sangat sabar, adem dan penuh kasih sayang, demikian juga nasehatnya, kalau kakak adik bertengkar, selesaikanlah di meja makan, karena kalau perut kenyang semuanya baik dan pasti penuh damai.
Dalam kurun waktu beribu tahun lamanya, nasihat-nasihat Kong Fu Cu sangat baik sekali, terutama hubungannya dengan keluarga. Saya sangat kagum kalau orang dulu demikian bijaksana. Kalau kamu tidak bisa merubah dunia jadi baik, paling tidak kamu bisa merubah dirimu jadi baik, sehingga keluargamu jadi baik dan akhirnya dunia jadi baik.
Semoga kita bisa merasakan cinta Tuhan yang begitu indah buat kita, terutama menciptakan keluarga-keluarga yang baik, seperti keluarga kudus di Nasareth. Tuhan memberkati. Salam dan doa.

One response to this post.

  1. Posted by priscilamarcelina on May 26, 2013 at 3:31 pm

    Manusia mempunyai pengaruh yang kuat terhadap sesama, apalagi kalau orang tersebut memiliki jabatan atau kelas yang tinggi. Kalau mereka mempunyai pengaruh yang baik, orang2 lain akan mengikuti pengaruh baik tersebut.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: